Get me outta here!

Minggu, 15 Januari 2012

mengenang malam-malamku setahun lebih yang lalu :')

Malam ini kuhabiskan saja bercakap-cakap dengan netbook. Membiarkan jari jemari menari di atas keyboard.
Tumben sekali penghuni rumah sudah mulai tak bersuara. Dan tumben sekali jam segini aku masih juga terjaga.

Rumah kontrakan kecil ini sudah mulai sepi. Nyaris tak ada suara. Hanya suara televisi yang diputar kecil, dan obrolan-obrolan tetangga yang bahkan hanya sayup dapat kudengar.

Banyak orang yang akan katakan ini malam yang sepi.

Tapi bagiku tidak.

Malam ini sungguh ramai.

Suara jangkrik bersahut-sahutan, ramai berderik-derik di sudut dedauan kebun ujung rumah. Jika kau pejamkan matamu dalam diam, hembusan angin bahkan terdengar seperti menari-nari. Dan entah perpaduan suara apa lagi. Semua sayup-sayup, tapi bercampur padu menjadi satu. Menciptakan simfoni yang indah.
Inilah malam. Malam dengan keramaiannya yang khas.

Keramaian yang sama yang menemani malam-malamku di IAR, perjuangan 3 bulan lebih di pusat rehabillitasi satwa, setahun lebih yang lalu. Mengamati perilaku primata nokturnal yang terancam punah: kukang.
Ku akui, bagiku itu bukan perjuangan yang mudah. Tidak mudah bagi seorang gadis yang takut anjing, takut hantu, dan takut malam. 3 ketakutan terbesar seorang Fidya Yolanda Polontalo yang enggan dilepaskannya selama 23 tahun. Tapi semua ketakutannya itu justru datang berbondong-bondong. Menuntutnya untuk menghadapi mereka dan menaklukan mereka dalam waktu 3 bulan. Seorang diri. Sendirian diantara lelaki. Siapa yang mau peduli?

Tapi bukankah demi satwa-satwa tak berdosa itu, bukankah demi salah satu passion terbesar -melakukan penelitian perilaku hewan di pusat konservasi satwa-, dan bukankah demi syarat kelulusan -melakukan penelitian- maka aku memberanikan diri menebas habis segala ketakutan itu.

Malam-malam ku di IAR.
Setiap harinya aku terbangun pukul 12 siang. Shalat. Makan. Bercakap-cakap dengan masyarakat sekitar atau dengan peneliti lainnya. Makan lagi. Merapikan data. Mandi. Lalu usai shalat magrib bersiap untuk berangkat ke kawasan perkandangan rehabilitasi satwa.
Di tas ransel sudah tersedia sebotol kopi panas, chiki2 atau cemilan kecil2an, buku catatan, papan dan lembar pengamatan, jas hujan, payung, senter, handphone, alat tulis, serta kamera.
Setelan kebangasaanku selama 3 bulan? Kaos berlapis jaket, celana panjang jeans siap kotor yang didalamnya didobel dengan celana leging, kaos kaki, sepatu boot super panjang, headlamp melingkar di kepala yang terbungkus bergo berwarna gelap.
Oh, tak lupa jam tangan.

Beruntung jika sedang melakukan penelitian pukul 6 sore, karna jam 6 sore hingga 12 malam, keeper2 penjaga dan pemelihara satwa-satwa itu masih terjaga dan berpatroli di sekitar kandang. Mereka menyiapkan pakan, membersihkan kandang, mencatat kondisi setiap satwa. Saat-saat pengamatan pukul 6-12 malam adalah masa-masa yang menyenangkan karna di saat2 itulah aku bisa melihat bagaimana para keeper memperlakukan kukang-kukang dengan hati-hati sekali. Kami biasa berkumpul pukul 9 malam di pos kukang, saat istrahat mereka. Berbagi kue2, dan cerita yang tak pernah habis menariknya. Mereka semua laki-laki, usia 25 tahun ke atas. Orang-orang Sunda asli yang tidak pernah ragu membagi pengetahuannya. Merekalah orang-orang yang menunjukkanku dunia konservasi sesungguhnya. Tahapan-tahapan detail dalam merawat dan memperlakukan satwa-satwa yang direhabilitasi.

Biasanya, jika aku memulai penelitian jam 6 malam, maka jam 12 atau jam 1 pagi aku sudah selesai pengamatan dan pulang berjalan kaki keluar dari area rehabilitasi, melewati rumah-rumah perkampungan. Lalu sesampainya di guest house, kisaran 8 anjing yang menghuni guest house menyalak-nyalak menyambut orang yang baru memasuki pagar. Dulu jangan tanya bagaimana paniknya aku tiap harus memasuki pagar dan belasaan anjing itu berdiri menggonggong di hadapanku. Tapi lama2, setiap pulang pengamatan malam, jam 12 jam 1 jam 2. disaat semua orang sudah tidur kecuali security, aku membuka pagar dengan senyuman. Disambut anjing-anjing yg mengibaskan ekor berkali-kali. Mengonggong, menyalak. Satu2 kupanggil nama mereka, dan mereka mengikutiku sampai depan kamar. Berdiri ramai-ramai. Dan si besar Bruno dengan rambutnya yg lebat cream langsung menghempaskan kedua kaki depannya tepat di dada. Bermanja minta di elus. Aku duduk di kursi depan kamar. Mengelus kepala mereka satu2. Ritual wajib yang kulakukan seusai pengamatan. Rambut mereka dingin. Mungkin itu sebabnya mereka meminta dielus lebih lama atau bahkan kadang minta dipeluk.

Siapa yang melakukan itu jam 12 malam, jam 1 malam, jam 2 malam, di depan kamarnya ? Aku, yang dulu melihat anjing dari jauh saja sudah menggigil ketakutan. Tapi lama-lama aku kian menikmatinya. Bagaimana tidak? Kau akan merasa sangat spesial ketika pulang malam seusai pengamatan sendirian, dan kau disambut dengan kibasan ekor mereka yang riang. Mereka begitu senang akan kehadiranmu. bahkan ingin memelukmu. Bahkan ingin menjilati pipimu *untuk yang satu ini tidak aku ijinkan :P*

Bagaimana kabarnya jika aku melakukan penelitian jam 12 malam sampai 6 pagi?

Yang satu ini baru benar-benar perjuangan.
Biasanya sehabis magrib aku akan langsung makan malam dan tidur. Kupinta pada security yang posnya tidak sampai 3 meter dari kamarku untuk membangunkan ku pukul 11 malam atau 12 atau jam 1 pagi.
Entah kenapa yang paling-paling-paling tak pernah terlupakan adalah cara Mang Engkus membangunkaku. Beliau tidak mempunyai handphone. Jadi bukan miskol yang kudapat, melainkan ketukan kencang di jendela kayu, tepat di samping kasurku.

Berkali-kali dia lakukan sampai aku menjawab panggilannya. Suaranya bahkan seperti tepat di samping telinga! “Fido! Jam 11 malam! Pengamatan!”

Aku langsung sigap terbangun. Mengucek mata berkali-kali sambil bilang “Iya..sudah bangun..”
Membuka pintu dan langsung disambut anjing bertubuh besar, Abu, si anjing alpha male yang memang sepertinya nyaris tak pernah tidur. Dia mengikutiku sampai ke depan pintu kamar mandi. Hahahhaha. Kalau dia manusia sudah tentu kuhajar karena lancang mengikuti ku sampai depan kamar mandi. Tapi si Abu ini memang selalu begitu. Dia selalu punya hobi memeriksa setiap sudut ruangan dan memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Kalau dia sudah menggonggong, maka yang lainnya akan ikut menggonggong.
Usai dari kamar mandi, langsung shalat. Bersiap dengan setelan kebangasaan pengamatan.

Tas Ransel sudah siap di punggung, dan headlamp di kepala menjadi satu-satunya penerang selain cahaya bulan maupun lampu jalanan.

Mang Engkus mengantarkan sampai depan pagar. Anjing-anjing yang lain cuma mengamati keberangakatanku. Biasanya yang rajin mengantar sampai pagar adalah Bruno si anjing paling besar dan manja itu.

Pukul 11, atau 12 atau 1, apa kau bisa menemukan manusia?
Tidak ada. Rumah-rumah warga sudah sunyi sepi senyap. Cuma suara kambing yang ramai melakukan koor suara tiap derap kakiku melangkah di tanah yang terkadang terlapisi serasah daun-daun tua. Aku harus hati-hati melangkah di jalan setapak perkampungan itu, karna jika kamu seksama melihat ke tanah, banyaaaakkk sekali kodok-kodok berukuran besar berdiri diam saja di tengah jalan, Begitupun dengan keong-keong berukuran sebesar bola kasti atau lebih.

Perjalanan tak terlalu lama dari kawasan guest house hingga kawasan perkandangan. Biasanya area perkandangan dijaga oleh seorang security yang asik terjaga di posnya, tepat disamping pagar utama. Memasuki pagar area perkandangan, masih ada 2 pagar lagi yang harus di lewati untuk memasuki kawasan kandang2 satwa yang di rehabilitasi.

Jika aku berangkat jam 11 dari guest house, biasanya aku masih bisa bertemu dengan keeper yang sedang bersiap-siap pulang. Tapi kalau sudah berangkat jam 12, area perkandangan kukang yang menurun ke bawah dan dikelilingi pohon pisang dan pohon bambu itu sudah sepi melompong. Malah kadang lampu berwarna merah sengaja dimatikan.

Mungkin kau pikir lampu berwarna merah membuat suasana perkandangan yang luas dan tak berpenghuni itu terlihat terang dan baik2 saja. Padahal? Hahhaha. Tidak. Bayangkan saja bagaimana rasanya masuk ke ruang cuci foto yang penyinarannya hanya di bantu oleh lampu merah. Beratapkan langit dan berdindingkan kandang2 berkawat, dan jejeran pohon2 bambu dan pohon2 pisang. Dan kamu seorang gadis. Seorang diri.
Suara-suara yang bercakap denganmu hanyalah suara2 khas kukang. Dalam sunyi, kamu bisa mendengarkan mereka berkomunikasi satu sama lain. Rasanya indaaahhh sekaliii. Tak lupa suara jangkrik di dalam kotak besar di pos keeper, persediaan pakan utama kukang. Dan suara semilir angin yang berhembus dan menelisik di antara dedaunan pohon bambu. Atau gemericik air di persawahan sekitar perkandangan.

Kata-kata yang mewakilkan malam-malamkku di IAR: gelap, dingin, dan sepiii...

Jika perasaan mulai tak enak, atau pikiran mulai tak fokus, maka kebiasaan andalanku adalah mendongakkan kepala ke atas. Ratusan atau mungkin ribuan bintang berkerlap-kerlip ramai, berkedip menghiasi langit yang hitam kelabu. Sedangkan bulan tampak gagah bijaksana bersinar lebih terang dikelilingi bintang. Indahnya langit malam hari yang dihiasi bintang dan bulan selalu meyakinkanku, bahwa semuanya baik-baik saja. Aku tak sendiri dengan kukang-kukang yang menatapku penuh selidik. Karna di langit masih ada banyak keramaian :)

Awalnya itu semua terasa berat. Mau mati menangis.
But, again, its always about process. Something that doesnt kill u will make u stronger. Ini kata pembimbing bule ku.

Ya. Aku telah berhasil melewati malam2 itu. Malam2 pengamatan seorang diri.
Aku bersyukur di area perkandangan ada seekor anjing bernama Ujang. Aku tidak tau jenis anjing itu. Tapi dia anjing yang sangat setia, sangaaattt setiaaa.. Sampai2, jika saja Anjing tidak najis, aku mau sekali mengadopsi Ujang sebagai bentuk balas jasaku padanya. Ya. di setiap malam. Anjing berambut coklat itu lah yang menemaniku. Dia duduk di sampingku, tidur atau kadang berjalan-jalan berkeliling. Dia sungguh anjing yang setia. I Love Ujang so much!

Aku cinta Ujang. Aku cinta bintang. Aku cinta bulan. Aku cinta malam-malam ku di kawasan perkandangan IAR. Malam dimana aku berjalan sendiri di jalan setapak perkampungan. Malam dimana aku memaknai arti pentingnya kehadiran orang lain di sisi. Malam dimana aku memaknai arti dari kesetiaan, bahkan yang ditunjukkan oleh seekor anjing. Malam yang penuh dengan bintang dan bulan bersinar seperti lampion. Malam-malam dimana hanya ada aku dan para kukang. Malam-malam dimana hanya ada aku yang bercakap dengan hatiku. Memaknai kebesaran Tuhan. Memaknai arti takdir. Dan memaknai keberadaan Tuhan.

Lalu, kala tiap ayam satu-persatu bangun menyambut azan dari surau2 di perkampungan.
dan matahari mulai terbit dari ujung sawah yang kulewati dalam perjalanan pulang.

Subhanallaah..
Malam-malam yang tak terlupakan di IAR.
Bahkan tak akan sanggup terungkap dengan tulisan yang aku buat di malam ini.

I miss the animals. i miss the observation. I miss every night in IAR. I miss voices of the night in IAR.



Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), primata nokturnal yang menjadi objek penelitianku :D

Ujaaaaaaang...! :D Foto ini kuambil ketika jam menunjukkan pukul 05.30 subuh, usai pengamatan :P


Area perkandangan rehabilitasi Kukang. Lokasinya menjorok ke bawah, dikelilingi pohon-pohon pisang, bambu

Me and Ujang. Love u! :*

Salah satu keeper yang sedang membuat papan nama kukang yang akan diletakkan di depan kandang

Aku dan Tim Keeper Kukang IAR. Lihat mataku berkantung sekaliiiii >O<

Papan pengamatan yang memorable sekali :')
 ruang biru/11012011pukul 21.59-00.35/curahan kangen :P
all this picture are taken by my self :)

0 komentar:

Posting Komentar