Get me outta here!

Rabu, 21 Februari 2018

SIX THINKING HATS


Otak manusia sungguh bagian yang kompleks dan menarik untuk dibahas, terlebih terhadap bagaimana ia memproses informasi ataupun bagaimana ia berpikir. Manusia, as God creations, have variations in the way they think. Edward de Bono, dokter sekaligus psikolog, pada tahun 1985 menelurkan sebuah buku berjudul “Six Thinking Hats”. Buku ini menjadi panduan banyak orang dalam berpikir secara paralel (paralel thinking). Berpikir paralel adalah sebuah proses berpikir untuk menempatkan pikirannya pada cara berpikir orang lain, bukan menyerang pemikiran orang lain. Berpikir paralel dinilai mampu membantu kita untuk menemukan win-win solution dalam menghadapi sebuah masalah atau mengeksplor sebuah topik.

Dalam konsep Six Thinking Hats, Edward de Bono mengibaratkan cara berpikir sebagai sebuah topi, beliau mengklasifikasikan 6 cara berpikir/topi manusia dalam mengeksplor sebuah topik/masalah dengan karakteristik khas dalam proses berpikirnya.





1.    Topi Putih
Topi putih identik dengan cara berpikir yang melibatkan banyak informasi dan fakta, tanpa menyertakan perasaan sedikitpun di dalamnya. Kalimat yang biasa digunakan seseorang ketika menggunakan topi putih yaitu:
·         Informasi yang kita miliki disini?
·         Informasi apa yang seharusnya kita miliki?
·         Bagaimana cara kita memperoleh informasi tersebut?
2.    Topi Hitam
Topi hitam adalah cara berpikir yang bersifat judgement (penilaian), cara berpikir ini melihat dengan sudut pandang yang kritis dan dominan dengan sifat kehati-hatian. Kalimat yang biasa digunakan seseorang ketika menggunakan topi hitam yaitu:
·         Proposal ini membutuhkan terlalu banyak biaya
·         Desain ini bagus, namun tidak praktis.
3.    Topi Hijau
Topi hijau dominan menggunakan otak kanan yaitu menggunakan sisi-sisi kreatif dalam melihat sebuah masalah/topik. Dalam mengeksplorasi topik, cara berpikir/topi ini cenderung memunculkan ide-ide baru dan gagasan-gagasan baru. Topi ini sangat tepat digunakan dalam menemukan ide-ide solusi baru yang kreatif. Kalimat yang biasa digunakan seseorang ketika menggunakan topi hijau yaitu:
·         Apa ada ide lain?
·         Dapatkah kita melakukannya dengan cara lain?
·         Apakah ada penjelasan lainnya?
4.   Topi Merah
Topi merah identik dengan penggunaan intuisi, perasaan, firasat dan naluri. Penggunaan topi ini biasanya bertolak belakang dengan topi putih. Dalam penggunaan topi merah, tidak dibutuhkan data, karena hanya melibatkan perasaan semata dalam memandang topik/masalah. Kalimat yang biasa digunakan seseorang ketika menggunakan topi merah yaitu:
·         Saya tidak suka cara ini
·         Saya tidak nyaman melakukannya
·         Saya merasakan sesuatu yang baik tentang hal ini
5.    Topi Kuning
Topi kuning adalah topi/cara berpikir analisa yang positif serta berfokus pada alasan, dimana di dalamnya terdapat optimisme dalam melihat solusi. Kalimat yang biasa digunakan seseorang ketika menggunakan topi kuning yaitu:
·         Apa manfaat dari pilihan ini?
·         Apa dampak positif dari pilihan ini?
·         Bagaimana caranya kita membuat ini mungkin terwujud?
6.   Topi Biru
Topi Biru identik dengan cara berpikir yang melibatkan proses mengontrol urutan cara berpikir sehingga proses berpikir lebih produktif dan memberikan hasil akhir sesuai dengan yang diharapkan. Topi biru melibatkan adanya agenda, keputusan, overview dan topi biru memungkinkan kita berpikir secara global. This hat whose control when we have to use green hat, yellow, red, white or even black hat. Kalimat yang biasa digunakan seseorang ketika menggunakan topi biru yaitu:
·         Saya menyarankan setelah ini kita menggunakan “topi hijau” untuk mencari ide-ide baru.
·         Menanyakan tentang ringkasan, kesimpulan, dan keputusan, “Sekarang bisakah kita meringkas kembali apa yang baru saja kita diskusikan”.




Menurut Edward de Bono, semua manusia memiliki kemampuan untuk menggunakan keenam cara berpikir/topi tersebut, namun tidak semua orang mampu memaksimalkan penggunaannya. Sama hal nya seperti kita memiliki enam buah topi, dan kita cenderung menggunakan topi merah sebagai favorit kita. Faktanya, kebanyakan orang hanya menggunakan/menguasai 2 sampai 3 topi dalam kesehariannya. Maka apabila kita ingin memaksimalkan penggunaan keenam topi yang kita miliki sebagai berkah dari Allah, kita harus lebih sering melatih diri kita dalam menggunakan lebih banyak topi.

Penggunaan variasi topi berpikir ini dapat kita gunakan dalam kegiatan sehari-hari dalam topik apapun dan dalam permasalahan apapun. Ada  beberapa aturan yang perlu diperhatikan dalam penggunaan topi berpikir ini, yaitu:
  1. Gunakan topi biru untuk memulai dan mengakhiri suatu diskusi atau proses berpikir, agar proses berpikir lebih produktif dan terarah.
  2. Setiap topi dapat digunakan secara mandiri ataupun divariasikan.
  3. Urutan dapat disesuaikan ulang dan berkembang sesuai dengan kebutuhan dan arus analisis.
  4. Gunakan timer atau batasi waktu dalam penggunaan topi.
  5. Gunakan topi kuning sebelum topi hitam.
  6. Menggunakan topi hitam terlalu awal dalam proses penyelesaian masalah dapat membunuh ide-ide kreatif secara negatif.
  7. Terlalu sering menggunakan topi hitam akan mengarahkan pada pesimisme.
  8. Dalam sebuah diskusi kelompok/rapat, penting untuk semua peserta rapat disiplin dan tetap fokus pada topi berpikir yang sedang digunakan.


Sebuah rapat dapat menggunakan variasi topi untuk membahas sebuah topik. Pada gambar 3, rapat dapat dibuka dengan menggunakan topi biru, lalu menggunakan topi merah untuk menanyakan kabar seluruh peserta rapat. Pemimpin rapat kemudian dapat mengeksplore informasi yang dimiliki oleh setiap peserta rapat dengan menggunakan topi putih, dilanjutkan dengan menggunakan topi kuning untuk mengetahui kabar baik apa saja yang didapatkan, lalu menggunakan topi hitam untuk mengeksplor tantangan/masalah yang dimiliki. Topi hijau kemudian digunakan untuk saling berbagi ide-ide terhadap permasalahan yang ada/solusi-solusi baru. Ditutup dengan saling menilai terhadap ide tersebut (topi merah) dan diakhiri dengan kesepakatan bersama ataupun review terhadap rapat yang sudah dijalankan dengan menggunakan topi biru.

Sebuah hal yang penting untuk menguasai seluruh topi berpikir ini dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa orang merasa hidup sangat berat saat menghadapi permasalahan karena terlalu sering mengggunakan topi hitam. Pernah juga kita temui orang-orang yang terlalu optimis hingga lupa untuk berhati-hati. Beberapa orang juga memiliki kemampuan kreatif yang tinggi namun tidak ada tindakan. Konsep yang disajikan oleh Edward de Bono akan memungkinkan kita memandang permasalahan lebih mudah, menarik dan objektif ketika kita mampu menggunakan cara berpikir yang berbeda.

Seperti firman Allah SWT,

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah Ayat 216)
Sebuah firman yang mengingatkan kita untuk senantiasa berpikir objektif.

Wallahu’alam bishawab.

DAFTAR ACUAN
  1. Al Qur’an
  2. Sulistami Prihandini. 6 Thinking Hats. SeGa Group.
  3. Ron. Six Thinking Hats - Enam Topi Berpikir Edward De Bono. Artikel ringan dari “http://shujinkouron.blogspot.co.id/2014/11/six-thinking-hats-enam-topi-berpikir.html” yang berisi review buku How to Have Beautiful Mind - Edward De Bono dan Berpikir Lateral - Edward De Bono.
  4. Optima Training (UK) Limited (Youtube Channel). Six Thinking Hats. https://www.youtube.com/watch?v=oHiwpz7r4wY.





















0 komentar:

Posting Komentar