Get me outta here!

Rabu, 21 Februari 2018

HOTs (High Order Thinking Skill)

Dulu waktu duduk di Sekolah Dasar, saat menghadapi soal ujian, mungkin sebagian dari kita, termasuk saya, merasa bahwa kepandaian atau kemampuan untuk berpikir yg tersulit dan tertinggi adalah MENGINGAT.

Rupanya tidak.
Benjamin Samuel Bloom, seorang psikolog bidang pendidikan yang melakukan penelitian dan pengembangan mengenai kemampuan berpikir dalam proses pembelajaran, justru mengatakan bahwa Mengingat adalah kemampuan berpikir yang terendah.

Bloom membagi kemampuan intelektual manusia menjadi 3 bagian yaitu:
1. Knowledge (kognitif) > what we know and what we understand
2. ‎Skill (psikomotorik) > kemampuan mendayagunakan fasilitas, fisik ataupun alat.
3. ‎Karakter (afektif) > how we behave and engage in the world / our ability to manage emotion.

Pada tahun 1956, Bloom memperkenalkan kerangka konsep kemampuan berpikir yang dikenal dengan sebutan Taxonomy Bloom. Konsep ini berfokus pada ranah kognitif otak manusia dan digambarkan dalam bentuk sebuah hirarki, yang mana menunjukkan tingkat kemampuan berpikir seseorang dalam proses belajar. Konsep ini kemudian direvisi dan dipublikasikan kembali pada tahun 2001 yaitu sebagai berikut:
1. Remember
2. ‎Understand
3. ‎Apply
4. ‎Analyze
5. ‎Evaluate
6. ‎Create

Dengan interpretasi sebagai berikut:
1. Sebelum memahami, harus mengingat
2. Sebelum mengaplikasikan, harus memahami
3. ‎Sebelum menganalisa, harus mengaplikasikan.
4. ‎Sebelum mengevaluasi,harus menganalisa
5. ‎Sebelum menciptakan harus mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis dan mengevaluasi.

Oleh sebab itu, tingkat berpikir pada hirarki 1 (mengingat), 2 (Memahami) dan 3 (Mengaplikasikan) disebut sebagai LOTs (Low Order Thinking Skill).
Sedangkan tingkat berpikir pada hirarki 4, 5 dan 6 disebut sebagai HOTs (High Order Thinking Skill), karena kemampuan berpikir pada hirarki 4, 5 dan 6 harus melewati tahapan berpikir 1, 2 dan 3.

HOTs sendiri akan menghasilkan 3 kemampuan berpikir:
1. Transfer (kemampuan mengingat, memakai pengetahuan, serta mengembangkannya dlm konsep yang baru)
2. Critical thinking (kemampuan menalar, fokus dengan menggunakan pertanyaan dan penyelidikan >> skill ini akan menghasilkan siswa yang tidak mudah terpengaruh pada lingkungan.)
3. ‎Problem solving (kemampuan memecahkan masalah ataupun menggapai tujuan)

Pada proses belajar di sekolah, beberapa tugas atau kegiatan yang dapat menstimulus HOTs, antara lain:
1. Project (it could be like Project Based Learning)
2. ‎Authentic Audience (menghadirkan guest teacher/atau org yang terjun langsung di bidang yang sedang kita ajarkan)
3. ‎Inquiry (proses menyelidiki or kind a reasearch)
4. ‎Peer assessment (Penilaian antar teman, siswa distimulus untuk memberikan penilaian kpd teman maupun mendapatkan penilaian dari teman)
5. ‎Peer feedback (Siswa distimulus untuk memberikan feedback terhadap penilaian tersebut)
6. ‎Students workshop.

Menstimulus HOTs pada siswa juga mulai digadangkan melalui soal-soal ujian. Soal-soal ujian yang mengandalkan kemampuan mengingat, memahami serta mengaplikasikan, dikatakan sebagai soal LOTs.
Sedangkan soal-soal ujian yang mampu menstimulus kemampuan siswa dalam menganalisis, mengevaluasi serta menciptakan/mengkreasi suatu hal, dikatakan sebagai soal HOTs.

Menarik kan?
Masih ingat dengan soal-soal ujian kita jaman SD, SMP dan SMA? atau jaman kuliah dulu?
Yuk, coba kita kenali dahulu, apakah kemampuan berpikir kita telah terasah cukup optimal atau apakah sebagai seorang guru sudah cukup HOTs dalam mengHOTskan siswa kita?

Contoh-contoh soal seputar HOTs ataupun hal lainnya seputar HOTs akan saya share-kan di tulisan saya berikutnya, insyaAllah.

_catatan racikan dari pelatihan karyawan Allah, SD Islam Sinar Cendekia, oleh Instruktur Nasional, Choirul Imam. & tulisan menarik Retno Utari Widyaiswara Madya, Pusdiklat KNPK_

0 komentar:

Posting Komentar