Get me outta here!

Rabu, 21 Februari 2018

HOTs (High Order Thinking Skill)

Dulu waktu duduk di Sekolah Dasar, saat menghadapi soal ujian, mungkin sebagian dari kita, termasuk saya, merasa bahwa kepandaian atau kemampuan untuk berpikir yg tersulit dan tertinggi adalah MENGINGAT.

Rupanya tidak.
Benjamin Samuel Bloom, seorang psikolog bidang pendidikan yang melakukan penelitian dan pengembangan mengenai kemampuan berpikir dalam proses pembelajaran, justru mengatakan bahwa Mengingat adalah kemampuan berpikir yang terendah.

Bloom membagi kemampuan intelektual manusia menjadi 3 bagian yaitu:
1. Knowledge (kognitif) > what we know and what we understand
2. ‎Skill (psikomotorik) > kemampuan mendayagunakan fasilitas, fisik ataupun alat.
3. ‎Karakter (afektif) > how we behave and engage in the world / our ability to manage emotion.

Pada tahun 1956, Bloom memperkenalkan kerangka konsep kemampuan berpikir yang dikenal dengan sebutan Taxonomy Bloom. Konsep ini berfokus pada ranah kognitif otak manusia dan digambarkan dalam bentuk sebuah hirarki, yang mana menunjukkan tingkat kemampuan berpikir seseorang dalam proses belajar. Konsep ini kemudian direvisi dan dipublikasikan kembali pada tahun 2001 yaitu sebagai berikut:
1. Remember
2. ‎Understand
3. ‎Apply
4. ‎Analyze
5. ‎Evaluate
6. ‎Create

Dengan interpretasi sebagai berikut:
1. Sebelum memahami, harus mengingat
2. Sebelum mengaplikasikan, harus memahami
3. ‎Sebelum menganalisa, harus mengaplikasikan.
4. ‎Sebelum mengevaluasi,harus menganalisa
5. ‎Sebelum menciptakan harus mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis dan mengevaluasi.

Oleh sebab itu, tingkat berpikir pada hirarki 1 (mengingat), 2 (Memahami) dan 3 (Mengaplikasikan) disebut sebagai LOTs (Low Order Thinking Skill).
Sedangkan tingkat berpikir pada hirarki 4, 5 dan 6 disebut sebagai HOTs (High Order Thinking Skill), karena kemampuan berpikir pada hirarki 4, 5 dan 6 harus melewati tahapan berpikir 1, 2 dan 3.

HOTs sendiri akan menghasilkan 3 kemampuan berpikir:
1. Transfer (kemampuan mengingat, memakai pengetahuan, serta mengembangkannya dlm konsep yang baru)
2. Critical thinking (kemampuan menalar, fokus dengan menggunakan pertanyaan dan penyelidikan >> skill ini akan menghasilkan siswa yang tidak mudah terpengaruh pada lingkungan.)
3. ‎Problem solving (kemampuan memecahkan masalah ataupun menggapai tujuan)

Pada proses belajar di sekolah, beberapa tugas atau kegiatan yang dapat menstimulus HOTs, antara lain:
1. Project (it could be like Project Based Learning)
2. ‎Authentic Audience (menghadirkan guest teacher/atau org yang terjun langsung di bidang yang sedang kita ajarkan)
3. ‎Inquiry (proses menyelidiki or kind a reasearch)
4. ‎Peer assessment (Penilaian antar teman, siswa distimulus untuk memberikan penilaian kpd teman maupun mendapatkan penilaian dari teman)
5. ‎Peer feedback (Siswa distimulus untuk memberikan feedback terhadap penilaian tersebut)
6. ‎Students workshop.

Menstimulus HOTs pada siswa juga mulai digadangkan melalui soal-soal ujian. Soal-soal ujian yang mengandalkan kemampuan mengingat, memahami serta mengaplikasikan, dikatakan sebagai soal LOTs.
Sedangkan soal-soal ujian yang mampu menstimulus kemampuan siswa dalam menganalisis, mengevaluasi serta menciptakan/mengkreasi suatu hal, dikatakan sebagai soal HOTs.

Menarik kan?
Masih ingat dengan soal-soal ujian kita jaman SD, SMP dan SMA? atau jaman kuliah dulu?
Yuk, coba kita kenali dahulu, apakah kemampuan berpikir kita telah terasah cukup optimal atau apakah sebagai seorang guru sudah cukup HOTs dalam mengHOTskan siswa kita?

Contoh-contoh soal seputar HOTs ataupun hal lainnya seputar HOTs akan saya share-kan di tulisan saya berikutnya, insyaAllah.

_catatan racikan dari pelatihan karyawan Allah, SD Islam Sinar Cendekia, oleh Instruktur Nasional, Choirul Imam. & tulisan menarik Retno Utari Widyaiswara Madya, Pusdiklat KNPK_

SIX THINKING HATS


Otak manusia sungguh bagian yang kompleks dan menarik untuk dibahas, terlebih terhadap bagaimana ia memproses informasi ataupun bagaimana ia berpikir. Manusia, as God creations, have variations in the way they think. Edward de Bono, dokter sekaligus psikolog, pada tahun 1985 menelurkan sebuah buku berjudul “Six Thinking Hats”. Buku ini menjadi panduan banyak orang dalam berpikir secara paralel (paralel thinking). Berpikir paralel adalah sebuah proses berpikir untuk menempatkan pikirannya pada cara berpikir orang lain, bukan menyerang pemikiran orang lain. Berpikir paralel dinilai mampu membantu kita untuk menemukan win-win solution dalam menghadapi sebuah masalah atau mengeksplor sebuah topik.

Dalam konsep Six Thinking Hats, Edward de Bono mengibaratkan cara berpikir sebagai sebuah topi, beliau mengklasifikasikan 6 cara berpikir/topi manusia dalam mengeksplor sebuah topik/masalah dengan karakteristik khas dalam proses berpikirnya.





1.    Topi Putih
Topi putih identik dengan cara berpikir yang melibatkan banyak informasi dan fakta, tanpa menyertakan perasaan sedikitpun di dalamnya. Kalimat yang biasa digunakan seseorang ketika menggunakan topi putih yaitu:
·         Informasi yang kita miliki disini?
·         Informasi apa yang seharusnya kita miliki?
·         Bagaimana cara kita memperoleh informasi tersebut?
2.    Topi Hitam
Topi hitam adalah cara berpikir yang bersifat judgement (penilaian), cara berpikir ini melihat dengan sudut pandang yang kritis dan dominan dengan sifat kehati-hatian. Kalimat yang biasa digunakan seseorang ketika menggunakan topi hitam yaitu:
·         Proposal ini membutuhkan terlalu banyak biaya
·         Desain ini bagus, namun tidak praktis.
3.    Topi Hijau
Topi hijau dominan menggunakan otak kanan yaitu menggunakan sisi-sisi kreatif dalam melihat sebuah masalah/topik. Dalam mengeksplorasi topik, cara berpikir/topi ini cenderung memunculkan ide-ide baru dan gagasan-gagasan baru. Topi ini sangat tepat digunakan dalam menemukan ide-ide solusi baru yang kreatif. Kalimat yang biasa digunakan seseorang ketika menggunakan topi hijau yaitu:
·         Apa ada ide lain?
·         Dapatkah kita melakukannya dengan cara lain?
·         Apakah ada penjelasan lainnya?
4.   Topi Merah
Topi merah identik dengan penggunaan intuisi, perasaan, firasat dan naluri. Penggunaan topi ini biasanya bertolak belakang dengan topi putih. Dalam penggunaan topi merah, tidak dibutuhkan data, karena hanya melibatkan perasaan semata dalam memandang topik/masalah. Kalimat yang biasa digunakan seseorang ketika menggunakan topi merah yaitu:
·         Saya tidak suka cara ini
·         Saya tidak nyaman melakukannya
·         Saya merasakan sesuatu yang baik tentang hal ini
5.    Topi Kuning
Topi kuning adalah topi/cara berpikir analisa yang positif serta berfokus pada alasan, dimana di dalamnya terdapat optimisme dalam melihat solusi. Kalimat yang biasa digunakan seseorang ketika menggunakan topi kuning yaitu:
·         Apa manfaat dari pilihan ini?
·         Apa dampak positif dari pilihan ini?
·         Bagaimana caranya kita membuat ini mungkin terwujud?
6.   Topi Biru
Topi Biru identik dengan cara berpikir yang melibatkan proses mengontrol urutan cara berpikir sehingga proses berpikir lebih produktif dan memberikan hasil akhir sesuai dengan yang diharapkan. Topi biru melibatkan adanya agenda, keputusan, overview dan topi biru memungkinkan kita berpikir secara global. This hat whose control when we have to use green hat, yellow, red, white or even black hat. Kalimat yang biasa digunakan seseorang ketika menggunakan topi biru yaitu:
·         Saya menyarankan setelah ini kita menggunakan “topi hijau” untuk mencari ide-ide baru.
·         Menanyakan tentang ringkasan, kesimpulan, dan keputusan, “Sekarang bisakah kita meringkas kembali apa yang baru saja kita diskusikan”.




Menurut Edward de Bono, semua manusia memiliki kemampuan untuk menggunakan keenam cara berpikir/topi tersebut, namun tidak semua orang mampu memaksimalkan penggunaannya. Sama hal nya seperti kita memiliki enam buah topi, dan kita cenderung menggunakan topi merah sebagai favorit kita. Faktanya, kebanyakan orang hanya menggunakan/menguasai 2 sampai 3 topi dalam kesehariannya. Maka apabila kita ingin memaksimalkan penggunaan keenam topi yang kita miliki sebagai berkah dari Allah, kita harus lebih sering melatih diri kita dalam menggunakan lebih banyak topi.

Penggunaan variasi topi berpikir ini dapat kita gunakan dalam kegiatan sehari-hari dalam topik apapun dan dalam permasalahan apapun. Ada  beberapa aturan yang perlu diperhatikan dalam penggunaan topi berpikir ini, yaitu:
  1. Gunakan topi biru untuk memulai dan mengakhiri suatu diskusi atau proses berpikir, agar proses berpikir lebih produktif dan terarah.
  2. Setiap topi dapat digunakan secara mandiri ataupun divariasikan.
  3. Urutan dapat disesuaikan ulang dan berkembang sesuai dengan kebutuhan dan arus analisis.
  4. Gunakan timer atau batasi waktu dalam penggunaan topi.
  5. Gunakan topi kuning sebelum topi hitam.
  6. Menggunakan topi hitam terlalu awal dalam proses penyelesaian masalah dapat membunuh ide-ide kreatif secara negatif.
  7. Terlalu sering menggunakan topi hitam akan mengarahkan pada pesimisme.
  8. Dalam sebuah diskusi kelompok/rapat, penting untuk semua peserta rapat disiplin dan tetap fokus pada topi berpikir yang sedang digunakan.


Sebuah rapat dapat menggunakan variasi topi untuk membahas sebuah topik. Pada gambar 3, rapat dapat dibuka dengan menggunakan topi biru, lalu menggunakan topi merah untuk menanyakan kabar seluruh peserta rapat. Pemimpin rapat kemudian dapat mengeksplore informasi yang dimiliki oleh setiap peserta rapat dengan menggunakan topi putih, dilanjutkan dengan menggunakan topi kuning untuk mengetahui kabar baik apa saja yang didapatkan, lalu menggunakan topi hitam untuk mengeksplor tantangan/masalah yang dimiliki. Topi hijau kemudian digunakan untuk saling berbagi ide-ide terhadap permasalahan yang ada/solusi-solusi baru. Ditutup dengan saling menilai terhadap ide tersebut (topi merah) dan diakhiri dengan kesepakatan bersama ataupun review terhadap rapat yang sudah dijalankan dengan menggunakan topi biru.

Sebuah hal yang penting untuk menguasai seluruh topi berpikir ini dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa orang merasa hidup sangat berat saat menghadapi permasalahan karena terlalu sering mengggunakan topi hitam. Pernah juga kita temui orang-orang yang terlalu optimis hingga lupa untuk berhati-hati. Beberapa orang juga memiliki kemampuan kreatif yang tinggi namun tidak ada tindakan. Konsep yang disajikan oleh Edward de Bono akan memungkinkan kita memandang permasalahan lebih mudah, menarik dan objektif ketika kita mampu menggunakan cara berpikir yang berbeda.

Seperti firman Allah SWT,

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah Ayat 216)
Sebuah firman yang mengingatkan kita untuk senantiasa berpikir objektif.

Wallahu’alam bishawab.

DAFTAR ACUAN
  1. Al Qur’an
  2. Sulistami Prihandini. 6 Thinking Hats. SeGa Group.
  3. Ron. Six Thinking Hats - Enam Topi Berpikir Edward De Bono. Artikel ringan dari “http://shujinkouron.blogspot.co.id/2014/11/six-thinking-hats-enam-topi-berpikir.html” yang berisi review buku How to Have Beautiful Mind - Edward De Bono dan Berpikir Lateral - Edward De Bono.
  4. Optima Training (UK) Limited (Youtube Channel). Six Thinking Hats. https://www.youtube.com/watch?v=oHiwpz7r4wY.





















Rabu, 21 Oktober 2015

Perjalanan lainnya, "Tourism Volunteer - Pandeglang, Banten, 20-22 Februari 2015"

(gambar diambil dari laman https://julianstodd.wordpress.com/2013/10/10/travelling-to-learn-reflection-and-narrative/)(gambar diambil dari laman https://julianstodd.wordpress.com/2013/10/10/travelling-to-learn-reflection-and-narrative/)

Saya pernah mengobrol hangat dengan seorang sahabat, tentang kesukaan kami pada kegiatan bernama jalan-jalan. Sepertinya hobi itu tidak terbendung, sulit dihapuskan dan dimasukkan dalam prioritas ke 100 sekian dalam hidup. Kami sama-sama sepakat bahwa perjalanan mengantarkan kami pada proses berpikir untuk memaknai arti kehidupan. Melihat kebesaran Tuhan. Dan menghargai keberagaman orang-orang di sekitar. Serta tidak mudah mengeluh dan menyerah pada tiap kesulitan yang dihadapi.

Aha, obrolan kami berujung pada sebuah perandaian, bagaimana agar kenikmatantravelling itu lebih bermakna dan bermanfaat bagi orang lain? Sahabatku itu masih bertanya-tanya, tapi saya rasa saya menemukan jawabannya dalam suatu episode perjalanan saya kali ini.

Melakukan Travelling sambil berkegiatan sosial.

Kenikmatan itu dapat saya rasakan ketika bertualang bersama teman-teman Dompet Dhuafa pada Jumat malam sampai Minggu sore, 20-22 Februari 2015, dengan acara usungan mereka “Tourism Volunteer”.

Sedikit bergaya di sisi Bus kami :p
Sedikit bergaya di sisi Bus kami :p

Malam itu, dengan masih bersetelan pakaian kantor, tas keril biru serta sekantong plastic cemilan indomart, saya berlarian menuju Masjid Terminal Kampung Rambutan. Kami, panitia dan peserta sudah membuat janji untuk bertemu disana pukul 20.00 untuk briefing, kemudian direncanakan akan berangkat pukul 21.00.

Desa Banyuasih , Pandeglang, Banten adalah tempat tujuan dari Bus yang kami tumpangi malam itu. Kapasitas bus tepat sekali dengan jumlah peserta ditambah sekitar 7 orang panitia, ditambah 2 mobil lainnya melaju lebih awal di depan.

Karena lelah seharian rutinitas di kantor, saya dan teman kantor saya -Ludia- lebih banyak tidur di perjalanan. Diperkirakan perjalanan akan memakan waktu 7 jam. Jadi, pagi, ketika kami telah tiba, kami harap kami sudah cukup segar dengan istrahat yang cukup di perjalanan.

Di kisaran pukul 03.00 subuh, saya tersentak bangun. Penghuni bus rusuh sekali. Rupanya bus yang kami tumpangi mengalami kendala melewati jalanan Kalicaa, termasuk desa citeureup kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang. Jalanan itu bukan lagi dikatakan rusak, nyaris semua permukaan semen jalan sudah bolong.

Wajah-wajah setengah bantal -wajah orang ngantuk- berjalan tergopoh-gopoh turun dari Bus, membiarkan Bus melaju pelan-pelan tanpa tumpangan. Setelah mendapatkan jalan “bagus”, kami berjalan menyusul bus untuk naik kembali.

Ada beberapa panitia yang mengkhawatirkan kenyamanan peserta, sempat bertanya dan menjelaskan pula kepada saya bahwa beginilah jalanannya dan seperti inilah medan yang harus kita hadapi kedepannya. Saya tersenyum saja. Dalam hati sebenarnya saya sudah cukup punya bayangan akan kondisi desa yang akan kami datangi. Mengilas balik pada brosur iklan kegiatan:
“Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa lewat Komunitas Filantropi Pendidikan akan melakukan inovasi gerakan sosial dengan melibatkan para relawan dalam kegiatan yang bernama Tourism Volunteer.”
 Kata relawan sudah menunjukkan perihal kesediaan untuk melakukan hal penuh tantangan di tempat yang tentunya membutuhkan bantuan. Yahhh..saat itu dikira-kira saja seperti apa kira-kira desa yang “membutuhkan bantuan”. Maka saat menemukan jalanan seperti itu, sebenarnya tidak begitu mengejutkan. Justru saya mulai merasakan sepercik mula dari sebuah petualangan. Dan saya suka. Haha.

Tantangan berikutnya yang kami hadapi, kami tiba di kampung Kacung, desa Banyuasih, kisaran pukul 04.00 subuh. Masih gelap tentunya. Kami harus berjalan kaki melewati jalan setapak yang kanan dan kirinya dihiasi padang ilalang dan pepohonan yang rimbun. Ah, ya, gelap, berlumpur, dan rimba. Mungkin kata rimba tidak terlalu menggambarkan jalanan itu, karena jelas lebih rimba hutan, hehe.

Deep inside, saya sangat menikmati perjalanan itu. Rasanya alam sekali, dan kesan pedalamannya benar-benar terasa. Suara jangkrik dan serangga sejenisnya saut menyaut. Saya tidak berkata ini persis sama seperti naik gunung dimana tracknya cenderung setengah vertical dengan beban di punggung puluhan kilo (ga ngitung spesifik :p). Tapi perjalanan menyusuri jalan pedesaan pedalaman memberi sensasi tersendiri.

Destinasi utama kami adalah Kampung Pamatang Kanyere, atau lebih popular disebut Umbul. Kami mulai yakin sudah mendekati desa itu ketika sayup terdengar suara adzan berkumandang. Saya memang bukan orang yang rajin pulang kampung, tapi sensasi yang terasa saat menyusuri jalan menuju kampung umbul adalah “pulang kampung”. Terbayang kiranya ramai anak-anak berarak membawa obor sambil takbiran keliling kampung. Haha. Begitulah hayalan saya ketika menjejaki jalan tanah berlumpur itu.

Kebetulan sekali, saya berkesempatan berjalan bersama dengan seorang pria berjaket pola garis-garis. Pria ini membawa kesan sederhana, saking sederhananya, saya sampai tidak menyangka bahwa ternyata pria ini pernah mengambil peran sangat besar dalam pendidikan anak-anak di Desa Banyuasih. Sepanjang perjalanan itu, pria ini mulai berkisah tentang pengalamannya mengajar di Desa Banyuasih. Hanya sekelumit sebenarnya. Tapi saya bisa merasakan kisah yang mendalam disana. Namanya Pak Ari, dan beliau adalah salah satu orang terpilih untuk menjadi guru dalam program Sekolah Guru Indonesia. Saya baru tau tentang program satu ini. Rupanya, sejak tahun 2009, Dompet Dhuafa telah menjalankan program Sekolah Guru Indonesia. Program ini telah menelurkan 6 angkatan Guru di 31 Kabupaten daerah terdepan, terluar dan tertinggal di seluruh wilayah Indonesia. You guys can check their website http://www.sekolahguruindonesia.net/.

Satu hal yang saya catat selama perjalanan dan selama berada di sana adalah “anjing” sudah menjadi hewan liar yang menghiasi jalanan desa. Berbeda dengan kondisi di perkotaan dimana kucing yang menjadi primadona :p. Hampir tiap rumah memelihara anjing dengan spesies yang sama, saya tidak tahu nama spesiesnya, tapi yang pasti rambutnya tipis.

Kami tiba di desa tepat saat waktu subuh tiba. Wanita menginap di rumah Ust. Ade Suryaman, penanggung jawab sekaligus pengajar di Madrasah Diniyah Awwaliya (MDA) dan Majelis Taklim Daarurroja’, dan pria menginap di madrasah tersebut yang berada tepat di depan rumah Ust. Ade. Hanya sebentar kami beristirahat dan bersih-bersih, kami sudah harus bersiap untuk menuju sekolah yang akan kami kunjungi, SDN Banyuasih 3.

Perjalanan menuju SD Banyuasih 3Perjalanan menuju SD Banyuasih 3

Perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki, berangkat pukul 09.00 sampai pukul 10.15. Kami disambut oleh anak-anak berseragam pramuka. Ramai sekali mereka bergerombol menghampiri kami untuk menyalim. Kepala Sekolah dan guru-guru sudah berada di ruang utama guru. Mereka cukup banyak berbagi suka duka. Termasuk menceritakan fasilitas transportasi yang masih mengandalkan kedua kaki alias jalan kaki dari rumah ke sekolah dengan kondisi jalan yang tidak beraspal. Ohya, juga kondisi siswa yang beberapa masih tidak menggunakan seragam sekolah serta alas kaki karena keterbatasan ekonomi.

Usai sambutan dari kepala sekolah dan guru-guru, kami diarahkan oleh panitia mengenai bantuan yang diharapkan dari volunteer untuk diberikan kepada siswa kelas 5 SD yang telah menunggu di ruangan. Kami diminta untuk mengeksplorasi sisi kreatifitas kami untuk “berbagi ilmu atau inspirasi” dengan adik-adik di SD itu.  Kelompok saya sendiri sepakat untuk mengajak adik-adik bernyanyi yel-yel penyemangat serta menggali adik-adik untuk berbagi mengenai cita-cita mereka.

Saya satu tim dengan Ibu Fadlun, Jihan, Neng dan Diah. Nah, gadis mungil bernama Diah ini rupanya tengah kuliah pendidikan biologi dan punya segudang lagu-lagu atau yel-yel untuk anak-anak muslim. Menarik sekali ketika mendengarkan dia memimpin anak-anak untuk bernyanyi, huruf hijayah, nama-nama hari dalam bahasa arab, dan lain sebagainya yang seriously baru saya dengar disana. Hmm,tapi rasanya saya berpikir untuk menghapalkannya jika saya punya anak suatu hari nanti, aamiin. Karena rupanya, cara menghafal melalui nyanyi membuat anak-anak dapat menghafal dengan cara yang lebih fun.

Berfoto usai kelas dengan adik-adik di SD Banyuasih
Berfoto usai kelas dengan adik-adik di SD Banyuasih

Aha, lalu kami bermain “Pohon Cita-cita”. Neng dan Bu Fadlun mencari tumbuhan di pot di area sekolah dan membawanya masuk ke dalam kelas. Kami meminta anak-anak untuk menuliskan cita-cita mereka di sebuah kertas kecil yang kemudian dilipat-lipat dan disisipkan di batang-batang pohon. Kami mengambil kertas secara acak dan membaca cita-cita apa yang terdapat di kertas tersebut. Anak-anak yang merasa jenis cita-cita itu adalah cita-cita mereka dipersilakan maju dan menjelaskan mengenai cita-cita mereka serta apa yang memotivasi mereka untuk memiliki cita-cita tersebut. Beberapa dari mereka bercita-cita untuk menjadi guru, dosen, polisi, pemain sepak bola dan ustadz seperti Pak Arie.

Tak berapa lama dari sesi berbagi di kelas-kelas SD Banyuasih, kami harus kembali lagi rumah Ust. Ade Suryaman, bebersih atau mendinginkan tubuh sejenak karena suhu di sana panas sekali. Saya dan teman-teman sempat terpikir sungguh untung besar orang yang menjual es batu disini karena es batu jadi sesuatu yang sangat berharga di tengah panasnya desa. Hehehhe.

Sorenya, kami para relawan dipersilakan masuk ke dalam Madrasah Diniyah Awwaliya (MDA) dan Majelis Taklim Daarurroja’. Pak Arie sudah ada di dalam, beliau mengilas balik atau memurojaah kembali hafalan hadits anak-anak muridnya dulu. MasyaAllah, malunya saat itu karena justru saya yang berpendidikan S1 dan telah beragama Islam selama 27 tahun tidak punya banyak hafalan hadits. Justru saya dapat satu tambahan hadits dari adik-adik yang masih terngiang di telinga saya “La taghdob walakal jannah, janganlah marah bagimu surga.”

Besoknya, kami lebih banyak menghabiskan waktu bersama para relawan. Mungkin semacam sesi yang dipersembahkan panitia kepada para relawan untuk sedikit bersantai-santai. Tapi jujur, mata saya tak lepas dari ramainya adik-adik yang berkerumul di pinggir tebing, sebagian dari mereka sedang berenang di bawah, dan saat dihampiri mereka dengan bangganya mempertontonkan aksi mereka melompat dari ujung daratan ke permukaan air.

“Kakak, Kakak, liat aku! Aku bisa begini!” Dan hap! salah satu gadis tomboy yang sedari kemarin saya ajak bicara melopat ke permukaan air, byuurrr!

Lalu menyusul lainnya yang tak kalah unjuk gigi, “Aku bisa lebih tinggi, Kak!”

Sesi seseruan anak-anak melompat ke air yang diabadikan dengan apik oleh Mas Angger (Komunitas Filantropi Pendidikan)Sesi seseruan anak-anak melompat ke air yang diabadikan dengan apik oleh Mas Angger (Komunitas Filantropi Pendidikan)

Saya suka. Suka sekali melihat mereka bermain, atau berceloteh macam-macam seakan tau banyak tentang dunia. Berceloteh banyak dengan riangnya atau dengan kepolosan yang masih mereka punya. Suka.

Namun keriangan itu harus berakhir, tatkala panitia memanggil untuk segera kembali ke rumah. Kami harus segera berkemas dan kembali ke Jakarta.

Siang kala itu, kami memasukkan tas-tas kami ke dalam mobil. Bus kami sudah menunggu di tempat pertama kami diturunkan kemarin.  Saya melihat lagi gadis tomboy yang banyak saya ajak mengobrol kemarin. Saya berpamitan, dan dia memberikan 3 buah kedondong pada saya. Saya tersenyum simpul.

Hal yang berharga tidak selalu dapat dinilai dengan uang. Ketulusan hati dan upayanya untuk memanjat pohon serta memberikan buah itu menurut saya a very precious thing yang saya dapatkan darinya.

Dan lalu, perjalanan kami mengantarkan kami kembali ke Jakarta. Ke kota yang penuh hiruk pikuk. Ya, kembali ke hiruk pikuk, dimana ketulusan hati adalah sesuatu yang langka untuk ditemukan.



Bukankah menyenangkan melakukan perjalanan sambil berbagi dalam kegiatan sosial?
Ya, saya menjawab tanya pada diri sendiri, yang mengambil kesimpulan dari perjalanan 2 hari 2 malam ke Desa Banyuasih, Pandeglang, Banten.



Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad).


Beberapa Foto Keseruan Kami saat itu

Ludia dan murid-muridnya
Ludia dan murid-muridnya

SDN Banyuasih 3
SDN Banyuasih 3

Dateng-dateng langsung diserbu untuk salim, berasa tua :3
Dateng-dateng langsung diserbu untuk salim, berasa tua :3

Ceritanya berbagi tugas dengan adik-adik, Kakak bagian nempel yah :p
Ceritanya berbagi tugas dengan adik-adik, Kakak bagian nempel yah :p

Perjalanan yang sangat menyengat menuju SD Banyuasih 3
Perjalanan yang sangat menyengat menuju SD Banyuasih 3

Ketika mas Arie memurojaah hafalan hadits adik2
Ketika mas Arie memurojaah hafalan hadits adik2


Ruang biru, 1 September 2015
-Baru menyelesaikan penulisannya

"Bukankah hidup pula adalah sebuah perjalanan" :)

Metamorfosis : perubahan dari kutub selatan ke kutub utara


Dulu, dulu banget ketika masih kecil, saya seringkali terkagum-kagum melihat perubahan seekor ulat menjadi kupu-kupu. Sebut saja makhluk ber-ordo Lepidoptera ini mengalami proses metamorfosis, dari ulat yang dipenuhi bulu, lalu berubah menjadi makhluk bersayap. Dari hewan yang bergerak dan beraktivitasnya di daun atau batang, berubah menjadi hewan yang bergerak mengandalkan udara, terbang kesana-kemari.

Pernah mengalami seperti kupu-kupu?
Mengalami perubahan dalam hidupmu, dimana perubahan itu seperti 180 derajat, seperti berpindah dari kutub utara ke kutub selatan, seperti aliran listrik posiitif dan negatif, begitu bertentangan.

Nah, saya mengalami itu dari tahun 2013 ke tahun 2014.

Di tahun 2013, ketika saya memiliki penghasilan sendiri, saya bisa dengan bebas menjalani hobi-hobi saya, termasuk salah satu hobi saya: travelling dan naik gunung. Jujur memang belum banyak tempat yang saya kunjungi. Tapi dalam satu bulan bisa dua tempat yang saya kunjungi. Saya pergunakan weekend saya untuk kerja sampingan demi mendapat penghasilan tambahan, lalu weekend berikutnya saya naik gunung. Seperti bahagia sekali menjalani kegiatan yang kamu rasa kamu banget.

Lalu, seperti yang pernah saya ceritakan dalam note saya “Permen-permen kesukaanku”, saya tidak bisa lagi menggeluti hobi saya yang dalam kamus mama saya disebut sebagai hobi tomboy. Yup, kebalikannya sekarang, saya mulai mengeksplorasi hobi baru. hobi baru dari kutub utara, lawannya kutub selatan. Hobi feminim: menjahit dan memasak. Banyak yang menyangsikan saya untuk menjalani dua hobi ini. Saya orang yang suka kegiatan outdoor, lalu tiba-tiba akan menggeluti kegiatan feminim yang dihabiskan di dalam rumah seperti memasak dan menjahit.

Dua kata untuk menggambarkan bagaimana kondisi saya saat itu: GA MUDAH.
Tapi satu hal yang saya pegang: GA MUDAH BUKAN BERARTI GA BISA.
I dare my self.
Menantang diri sendiri dengan targetan-targetan yang saya buat.
Targetannya seperti ini:
> Menjahit: di akhir tahun 2014 jadi 1 dress
> Memasak: di akhir tahun 2014 bisa memasak menu harian di rumah tanpa pegang resep.

Well, okey, buat sebagian orang mungkin itu mudah. Apalagi jika dikaitkannya cuma dengan “satu” dress, hanya “satu”. Dan memasak “tanpa pegang buku resep”, tinggal dihafal?

Ladies and gentleman, untuk orang yang ga terbiasa memasak makanan harian (apalagi daya ingatnya agak lemah) dan untuk orang yang ga pernah pegang mesin jahit atau bikin pola, maka itu sama seperti anak kecil yang baru belajar menulis dan membaca. This is true dan saya ga melebih-lebihkan.

Tapi kamu bisa melakukan itu dengan coba mengamalkan tips yang saya sharing di notes saya berjudul “We need to make a resolution, dude!”. Saya mengaplikasikannya dengan membuat targetan yang jelas dan spesifik, tidak terlalu sulit tapi juga tidak terlalu mudah, mempublish target tersebut ke orang-orang yang akan mengingatkanmu terhadap target itu, dan tentunya just buy things yang akan mendukung kamu terhadap hobi dan targetan itu.

Maka seperti halnya ketika saya mulai mengalami euforia naik gunung dulu dengan membeli gear-gear serta mengikuti komunitas naik gunung, untuk yang satu ini saya melakukan hal yang sama. Saya membeli gear memasak dan menjahit (wakakakak, GEAR mameeennn). Contoh gear memasak: piring-piring cantik, panci, celemek, buku-buku resep, dll. Lalu gear menjahit: beli buku menjahit bagi pemula, membeli kain, benang, penggaris, meteran (mesin jahit sudah ada dari mama). Dan karena SULITNYA menemukan komunitas memasak dan menjahit, maka SAYA MEMBUAT SENDIRI KOMUNITAS itu. Bahahahahaha. Yap, saya membuat grup whatsapp dimana didalamnya saya invite teman-teman yang saya tau persis punya hobi serupa.

Setiap kali saya melakukan progress kecil saya share di grup itu. Luaaarrr biasaaaa. Terkesannya sombong. Padahal, tujuannya adalah untuk memotivasi diri saya sendiri untuk melakukan peningkatan dan merasa terawasi oleh orang-orang di sekitar saya. And it WORKS!!!

Baik, coba kita evaluasi hasil dari targetan memasak dan menjahit setelah sekarang sudah berjalan nyaris 6 bulan:
Menjahit:
1) saya sudah punya pola untuk baju saya, and i made it my self.
2) saya sudah membuat 2 buah rok, dimana 1 diantaranya gatot (gagal total) a.k.a. kurang menarik bagi saya sendiri (sepertinya akan saya perbaiki lagi), dan satu lagi: i really love my skirt, my own skirt, my handmade! Dan ajaibnya, itu bikinan saya. Fidya yang tidak bisa menjahit sama sekali sebelumnya.
3) 7-8 Juni 2014, baru saja kemarin, saya sampai di garis finish targetan menjahit saya di 2014: saya sudah membuat 1 buah dress yang cantik. My own dress. Fido’s handmade

Nah, untuk evaluasi memasak:
1) Saya mengundang teman-teman saya main ke rumah dan saya yang memasak makanan untuk mereka. Wew. Ini butuh nyali besar. Bayangkan jika masakanmu gagal? Haha. Tapi kita harus berani selagi kita yakin dan berusaha.
2) Saya sudah menjadi side chef di rumah, perbandingan tanggung jawab memasak di rumah sekarang sudah 60:40 (mama : saya). Well. Haha. Meskipun setiap memasak masih memegang buku resep.
Lalu bagaimana dengan terbiasa memasak tanpa buku resep? Rupanya untuk yang satu ini tidak mudah berhubung daya ingat saya tidak cukup bisa diharapkan. Tapi sepertinya strategi penghafalan bumbu utama ditambah dengan sotoylogi perbandingan konsentrasi antar bumbu di dalam bahan makanan bisa digunakan. Dan ini: Butuh jam terbang mameeenn.

Well.
Itulah tadi perjalanan mengenai, emm, sebut saja proses metamorfosis yang saya alami. Perubahan yang, untuk saya, bisa saya sebut seperti kutub utara dan selatan. Kadang saya sendiri menertawakan ini. Ini benar-benar konyol.
Tujuan saya menshare ini, tentunya sekali lagi untuk memotivasi dan menjadi pengingat bagi saya untuk memenuhi resolusi 2014. Haha. Tapi, mungkin, mungkin, tulisan ini bisa bermanfaat buat kalian, tentu akan menyenangkan sekali bisa membawa manfaat bagi orang lain.

Seringkali orang mengaitkan perubahan atau metamorfosis yang dialami kupu-kupu itu adalah perubahan dari buruk ke baik. Tapi menurut saya tidak seperti itu. Ulat bulu tetap cantik ko. Mereka, kupu-kupu dan ulat bulu hanya berbeda saja. Dari bentuk dan tempat beraktivitasnya, seperti di awal saya jabarkan. Sama halnya dengan kedua hobi saya yang bertolak belakang. Menurut saya, hobi naik gunung memberikan manfaat yang positif. Begitupun dengan hobi memasak dan menjahit. Keduanya baik. Mereka hanya berbeda. Dan memiliki kegunaan yang berbeda bagi kehidupan kita. Yang terpenting menurut saya, kita jelas harus tau kenapa kita memilih melakukan sesuatu dan meninggalkan sesuatu agar manfaatnya bisa benar-benar kita dapatkan dan kita tidak gampang goyah dengan prinsip kita. Wallahu’alam. Semoga Allah senantiasa merahmati kita.

Sekiaaaan.
Saya dan hobi baru saya, menjahit dan memasak (yang tergopoh-gopoh saya tekuni)
And it starts to be very interesting!

The adventure is not always out there, it can be here, if you can look closer - Polontalo, 2014

Ruang biru,
09/06/2014




Beberapa "GEAR" menjahit sayah, skrg sudah lbh banyak dan mulai lengkap :p
Beberapa "GEAR" menjahit sayah, skrg sudah lbh banyak dan mulai lengkap :p

Ditemani Zaki (keponakan berusia 4 tahhun) saat sedang membuat pola
Ditemani Zaki (keponakan berusia 4 tahhun) saat sedang membuat pola

TARRAAA... My Dress! My handmade! :'D Alhamdulillah
TARRAAA... My Dress! My handmade! :'D Alhamdulillah

Beberapa percobaan di awal masa-masa nyoba masak :p
Beberapa percobaan di awal masa-masa nyoba masak :p

Kawanan deBOP main ke rumah sebagai korban dari eksperimen saya, terima kasih sudah mau jadi objek percobaan, hehe..Alhamdulillah ga mengecewakan XD
Kawanan deBOP main ke rumah sebagai korban dari eksperimen saya, terima kasih sudah mau jadi objek percobaan, hehe..Alhamdulillah ga mengecewakan XD

Fido di kutub selatan, pindah ke kutub utara, haha. So excited! XD
Fido di kutub selatan, pindah ke kutub utara, haha. So excited! XD