
Dulu, dulu banget ketika masih kecil, saya seringkali terkagum-kagum melihat perubahan seekor ulat menjadi kupu-kupu. Sebut saja makhluk ber-ordo Lepidoptera ini mengalami proses metamorfosis, dari ulat yang dipenuhi bulu, lalu berubah menjadi makhluk bersayap. Dari hewan yang bergerak dan beraktivitasnya di daun atau batang, berubah menjadi hewan yang bergerak mengandalkan udara, terbang kesana-kemari.
Pernah mengalami seperti kupu-kupu?
Mengalami perubahan dalam hidupmu, dimana perubahan itu seperti 180 derajat, seperti berpindah dari kutub utara ke kutub selatan, seperti aliran listrik posiitif dan negatif, begitu bertentangan.
Nah, saya mengalami itu dari tahun 2013 ke tahun 2014.
Di tahun 2013, ketika saya memiliki penghasilan sendiri, saya bisa dengan bebas menjalani hobi-hobi saya, termasuk salah satu hobi saya: travelling dan naik gunung. Jujur memang belum banyak tempat yang saya kunjungi. Tapi dalam satu bulan bisa dua tempat yang saya kunjungi. Saya pergunakan weekend saya untuk kerja sampingan demi mendapat penghasilan tambahan, lalu weekend berikutnya saya naik gunung. Seperti bahagia sekali menjalani kegiatan yang kamu rasa kamu banget.
Lalu, seperti yang pernah saya ceritakan dalam note saya “Permen-permen kesukaanku”, saya tidak bisa lagi menggeluti hobi saya yang dalam kamus mama saya disebut sebagai hobi tomboy. Yup, kebalikannya sekarang, saya mulai mengeksplorasi hobi baru. hobi baru dari kutub utara, lawannya kutub selatan. Hobi feminim: menjahit dan memasak. Banyak yang menyangsikan saya untuk menjalani dua hobi ini. Saya orang yang suka kegiatan outdoor, lalu tiba-tiba akan menggeluti kegiatan feminim yang dihabiskan di dalam rumah seperti memasak dan menjahit.
Dua kata untuk menggambarkan bagaimana kondisi saya saat itu: GA MUDAH.
Tapi satu hal yang saya pegang: GA MUDAH BUKAN BERARTI GA BISA.
I dare my self.
Menantang diri sendiri dengan targetan-targetan yang saya buat.
Targetannya seperti ini:
> Menjahit: di akhir tahun 2014 jadi 1 dress
> Memasak: di akhir tahun 2014 bisa memasak menu harian di rumah tanpa pegang resep.
Well, okey, buat sebagian orang mungkin itu mudah. Apalagi jika dikaitkannya cuma dengan “satu” dress, hanya “satu”. Dan memasak “tanpa pegang buku resep”, tinggal dihafal?
Ladies and gentleman, untuk orang yang ga terbiasa memasak makanan harian (apalagi daya ingatnya agak lemah) dan untuk orang yang ga pernah pegang mesin jahit atau bikin pola, maka itu sama seperti anak kecil yang baru belajar menulis dan membaca. This is true dan saya ga melebih-lebihkan.
Tapi kamu bisa melakukan itu dengan coba mengamalkan tips yang saya sharing di notes saya berjudul “We need to make a resolution, dude!”. Saya mengaplikasikannya dengan membuat targetan yang jelas dan spesifik, tidak terlalu sulit tapi juga tidak terlalu mudah, mempublish target tersebut ke orang-orang yang akan mengingatkanmu terhadap target itu, dan tentunya just buy things yang akan mendukung kamu terhadap hobi dan targetan itu.
Maka seperti halnya ketika saya mulai mengalami euforia naik gunung dulu dengan membeli gear-gear serta mengikuti komunitas naik gunung, untuk yang satu ini saya melakukan hal yang sama. Saya membeli gear memasak dan menjahit (wakakakak, GEAR mameeennn). Contoh gear memasak: piring-piring cantik, panci, celemek, buku-buku resep, dll. Lalu gear menjahit: beli buku menjahit bagi pemula, membeli kain, benang, penggaris, meteran (mesin jahit sudah ada dari mama). Dan karena SULITNYA menemukan komunitas memasak dan menjahit, maka SAYA MEMBUAT SENDIRI KOMUNITAS itu. Bahahahahaha. Yap, saya membuat grup whatsapp dimana didalamnya saya invite teman-teman yang saya tau persis punya hobi serupa.
Setiap kali saya melakukan progress kecil saya share di grup itu. Luaaarrr biasaaaa. Terkesannya sombong. Padahal, tujuannya adalah untuk memotivasi diri saya sendiri untuk melakukan peningkatan dan merasa terawasi oleh orang-orang di sekitar saya. And it WORKS!!!
Baik, coba kita evaluasi hasil dari targetan memasak dan menjahit setelah sekarang sudah berjalan nyaris 6 bulan:
Menjahit:
1) saya sudah punya pola untuk baju saya, and i made it my self.
2) saya sudah membuat 2 buah rok, dimana 1 diantaranya gatot (gagal total) a.k.a. kurang menarik bagi saya sendiri (sepertinya akan saya perbaiki lagi), dan satu lagi: i really love my skirt, my own skirt, my handmade! Dan ajaibnya, itu bikinan saya. Fidya yang tidak bisa menjahit sama sekali sebelumnya.
3) 7-8 Juni 2014, baru saja kemarin, saya sampai di garis finish targetan menjahit saya di 2014: saya sudah membuat 1 buah dress yang cantik. My own dress. Fido’s handmade
Nah, untuk evaluasi memasak:
1) Saya mengundang teman-teman saya main ke rumah dan saya yang memasak makanan untuk mereka. Wew. Ini butuh nyali besar. Bayangkan jika masakanmu gagal? Haha. Tapi kita harus berani selagi kita yakin dan berusaha.
2) Saya sudah menjadi side chef di rumah, perbandingan tanggung jawab memasak di rumah sekarang sudah 60:40 (mama : saya). Well. Haha. Meskipun setiap memasak masih memegang buku resep.
Lalu bagaimana dengan terbiasa memasak tanpa buku resep? Rupanya untuk yang satu ini tidak mudah berhubung daya ingat saya tidak cukup bisa diharapkan. Tapi sepertinya strategi penghafalan bumbu utama ditambah dengan sotoylogi perbandingan konsentrasi antar bumbu di dalam bahan makanan bisa digunakan. Dan ini: Butuh jam terbang mameeenn.
Well.
Itulah tadi perjalanan mengenai, emm, sebut saja proses metamorfosis yang saya alami. Perubahan yang, untuk saya, bisa saya sebut seperti kutub utara dan selatan. Kadang saya sendiri menertawakan ini. Ini benar-benar konyol.
Tujuan saya menshare ini, tentunya sekali lagi untuk memotivasi dan menjadi pengingat bagi saya untuk memenuhi resolusi 2014. Haha. Tapi, mungkin, mungkin, tulisan ini bisa bermanfaat buat kalian, tentu akan menyenangkan sekali bisa membawa manfaat bagi orang lain.
Seringkali orang mengaitkan perubahan atau metamorfosis yang dialami kupu-kupu itu adalah perubahan dari buruk ke baik. Tapi menurut saya tidak seperti itu. Ulat bulu tetap cantik ko. Mereka, kupu-kupu dan ulat bulu hanya berbeda saja. Dari bentuk dan tempat beraktivitasnya, seperti di awal saya jabarkan. Sama halnya dengan kedua hobi saya yang bertolak belakang. Menurut saya, hobi naik gunung memberikan manfaat yang positif. Begitupun dengan hobi memasak dan menjahit. Keduanya baik. Mereka hanya berbeda. Dan memiliki kegunaan yang berbeda bagi kehidupan kita. Yang terpenting menurut saya, kita jelas harus tau kenapa kita memilih melakukan sesuatu dan meninggalkan sesuatu agar manfaatnya bisa benar-benar kita dapatkan dan kita tidak gampang goyah dengan prinsip kita. Wallahu’alam. Semoga Allah senantiasa merahmati kita.
Sekiaaaan.
Saya dan hobi baru saya, menjahit dan memasak (yang tergopoh-gopoh saya tekuni)
And it starts to be very interesting!
The adventure is not always out there, it can be here, if you can look closer - Polontalo, 2014
Ruang biru,
09/06/2014
(Picture di atas di ambil dari webhttp://gibranhuzaifah.wordpress.com/2008/06/23/metamorfosis/)

Beberapa "GEAR" menjahit sayah, skrg sudah lbh banyak dan mulai lengkap :p

Ditemani Zaki (keponakan berusia 4 tahhun) saat sedang membuat pola

TARRAAA... My Dress! My handmade! :'D Alhamdulillah

Beberapa percobaan di awal masa-masa nyoba masak :p

Kawanan deBOP main ke rumah sebagai korban dari eksperimen saya, terima kasih sudah mau jadi objek percobaan, hehe..Alhamdulillah ga mengecewakan XD

Fido di kutub selatan, pindah ke kutub utara, haha. So excited! XD

0 komentar:
Posting Komentar