(gambar diambil dari laman https://julianstodd.wordpress.com/2013/10/10/travelling-to-learn-reflection-and-narrative/)
Saya pernah mengobrol hangat dengan seorang sahabat, tentang kesukaan kami pada kegiatan bernama jalan-jalan. Sepertinya hobi itu tidak terbendung, sulit dihapuskan dan dimasukkan dalam prioritas ke 100 sekian dalam hidup. Kami sama-sama sepakat bahwa perjalanan mengantarkan kami pada proses berpikir untuk memaknai arti kehidupan. Melihat kebesaran Tuhan. Dan menghargai keberagaman orang-orang di sekitar. Serta tidak mudah mengeluh dan menyerah pada tiap kesulitan yang dihadapi.
Aha, obrolan kami berujung pada sebuah perandaian, bagaimana agar kenikmatantravelling itu lebih bermakna dan bermanfaat bagi orang lain? Sahabatku itu masih bertanya-tanya, tapi saya rasa saya menemukan jawabannya dalam suatu episode perjalanan saya kali ini.
Melakukan Travelling sambil berkegiatan sosial.
Kenikmatan itu dapat saya rasakan ketika bertualang bersama teman-teman Dompet Dhuafa pada Jumat malam sampai Minggu sore, 20-22 Februari 2015, dengan acara usungan mereka “Tourism Volunteer”.

Sedikit bergaya di sisi Bus kami :p
Malam itu, dengan masih bersetelan pakaian kantor, tas keril biru serta sekantong plastic cemilan indomart, saya berlarian menuju Masjid Terminal Kampung Rambutan. Kami, panitia dan peserta sudah membuat janji untuk bertemu disana pukul 20.00 untuk briefing, kemudian direncanakan akan berangkat pukul 21.00.
Desa Banyuasih , Pandeglang, Banten adalah tempat tujuan dari Bus yang kami tumpangi malam itu. Kapasitas bus tepat sekali dengan jumlah peserta ditambah sekitar 7 orang panitia, ditambah 2 mobil lainnya melaju lebih awal di depan.
Karena lelah seharian rutinitas di kantor, saya dan teman kantor saya -Ludia- lebih banyak tidur di perjalanan. Diperkirakan perjalanan akan memakan waktu 7 jam. Jadi, pagi, ketika kami telah tiba, kami harap kami sudah cukup segar dengan istrahat yang cukup di perjalanan.
Di kisaran pukul 03.00 subuh, saya tersentak bangun. Penghuni bus rusuh sekali. Rupanya bus yang kami tumpangi mengalami kendala melewati jalanan Kalicaa, termasuk desa citeureup kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang. Jalanan itu bukan lagi dikatakan rusak, nyaris semua permukaan semen jalan sudah bolong.
Wajah-wajah setengah bantal -wajah orang ngantuk- berjalan tergopoh-gopoh turun dari Bus, membiarkan Bus melaju pelan-pelan tanpa tumpangan. Setelah mendapatkan jalan “bagus”, kami berjalan menyusul bus untuk naik kembali.
Ada beberapa panitia yang mengkhawatirkan kenyamanan peserta, sempat bertanya dan menjelaskan pula kepada saya bahwa beginilah jalanannya dan seperti inilah medan yang harus kita hadapi kedepannya. Saya tersenyum saja. Dalam hati sebenarnya saya sudah cukup punya bayangan akan kondisi desa yang akan kami datangi. Mengilas balik pada brosur iklan kegiatan:
“Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa lewat Komunitas Filantropi Pendidikan akan melakukan inovasi gerakan sosial dengan melibatkan para relawan dalam kegiatan yang bernama Tourism Volunteer.”
Kata relawan sudah menunjukkan perihal kesediaan untuk melakukan hal penuh tantangan di tempat yang tentunya membutuhkan bantuan. Yahhh..saat itu dikira-kira saja seperti apa kira-kira desa yang “membutuhkan bantuan”. Maka saat menemukan jalanan seperti itu, sebenarnya tidak begitu mengejutkan. Justru saya mulai merasakan sepercik mula dari sebuah petualangan. Dan saya suka. Haha.
Tantangan berikutnya yang kami hadapi, kami tiba di kampung Kacung, desa Banyuasih, kisaran pukul 04.00 subuh. Masih gelap tentunya. Kami harus berjalan kaki melewati jalan setapak yang kanan dan kirinya dihiasi padang ilalang dan pepohonan yang rimbun. Ah, ya, gelap, berlumpur, dan rimba. Mungkin kata rimba tidak terlalu menggambarkan jalanan itu, karena jelas lebih rimba hutan, hehe.
Deep inside, saya sangat menikmati perjalanan itu. Rasanya alam sekali, dan kesan pedalamannya benar-benar terasa. Suara jangkrik dan serangga sejenisnya saut menyaut. Saya tidak berkata ini persis sama seperti naik gunung dimana tracknya cenderung setengah vertical dengan beban di punggung puluhan kilo (ga ngitung spesifik :p). Tapi perjalanan menyusuri jalan pedesaan pedalaman memberi sensasi tersendiri.
Destinasi utama kami adalah Kampung Pamatang Kanyere, atau lebih popular disebut Umbul. Kami mulai yakin sudah mendekati desa itu ketika sayup terdengar suara adzan berkumandang. Saya memang bukan orang yang rajin pulang kampung, tapi sensasi yang terasa saat menyusuri jalan menuju kampung umbul adalah “pulang kampung”. Terbayang kiranya ramai anak-anak berarak membawa obor sambil takbiran keliling kampung. Haha. Begitulah hayalan saya ketika menjejaki jalan tanah berlumpur itu.
Kebetulan sekali, saya berkesempatan berjalan bersama dengan seorang pria berjaket pola garis-garis. Pria ini membawa kesan sederhana, saking sederhananya, saya sampai tidak menyangka bahwa ternyata pria ini pernah mengambil peran sangat besar dalam pendidikan anak-anak di Desa Banyuasih. Sepanjang perjalanan itu, pria ini mulai berkisah tentang pengalamannya mengajar di Desa Banyuasih. Hanya sekelumit sebenarnya. Tapi saya bisa merasakan kisah yang mendalam disana. Namanya Pak Ari, dan beliau adalah salah satu orang terpilih untuk menjadi guru dalam program Sekolah Guru Indonesia. Saya baru tau tentang program satu ini. Rupanya, sejak tahun 2009, Dompet Dhuafa telah menjalankan program Sekolah Guru Indonesia. Program ini telah menelurkan 6 angkatan Guru di 31 Kabupaten daerah terdepan, terluar dan tertinggal di seluruh wilayah Indonesia. You guys can check their website http://www.sekolahguruindonesia.net/.
Satu hal yang saya catat selama perjalanan dan selama berada di sana adalah “anjing” sudah menjadi hewan liar yang menghiasi jalanan desa. Berbeda dengan kondisi di perkotaan dimana kucing yang menjadi primadona :p. Hampir tiap rumah memelihara anjing dengan spesies yang sama, saya tidak tahu nama spesiesnya, tapi yang pasti rambutnya tipis.
Kami tiba di desa tepat saat waktu subuh tiba. Wanita menginap di rumah Ust. Ade Suryaman, penanggung jawab sekaligus pengajar di Madrasah Diniyah Awwaliya (MDA) dan Majelis Taklim Daarurroja’, dan pria menginap di madrasah tersebut yang berada tepat di depan rumah Ust. Ade. Hanya sebentar kami beristirahat dan bersih-bersih, kami sudah harus bersiap untuk menuju sekolah yang akan kami kunjungi, SDN Banyuasih 3.
Perjalanan menuju SD Banyuasih 3
Perjalanan harus ditempuh dengan berjalan kaki, berangkat pukul 09.00 sampai pukul 10.15. Kami disambut oleh anak-anak berseragam pramuka. Ramai sekali mereka bergerombol menghampiri kami untuk menyalim. Kepala Sekolah dan guru-guru sudah berada di ruang utama guru. Mereka cukup banyak berbagi suka duka. Termasuk menceritakan fasilitas transportasi yang masih mengandalkan kedua kaki alias jalan kaki dari rumah ke sekolah dengan kondisi jalan yang tidak beraspal. Ohya, juga kondisi siswa yang beberapa masih tidak menggunakan seragam sekolah serta alas kaki karena keterbatasan ekonomi.
Usai sambutan dari kepala sekolah dan guru-guru, kami diarahkan oleh panitia mengenai bantuan yang diharapkan dari volunteer untuk diberikan kepada siswa kelas 5 SD yang telah menunggu di ruangan. Kami diminta untuk mengeksplorasi sisi kreatifitas kami untuk “berbagi ilmu atau inspirasi” dengan adik-adik di SD itu. Kelompok saya sendiri sepakat untuk mengajak adik-adik bernyanyi yel-yel penyemangat serta menggali adik-adik untuk berbagi mengenai cita-cita mereka.
Saya satu tim dengan Ibu Fadlun, Jihan, Neng dan Diah. Nah, gadis mungil bernama Diah ini rupanya tengah kuliah pendidikan biologi dan punya segudang lagu-lagu atau yel-yel untuk anak-anak muslim. Menarik sekali ketika mendengarkan dia memimpin anak-anak untuk bernyanyi, huruf hijayah, nama-nama hari dalam bahasa arab, dan lain sebagainya yang seriously baru saya dengar disana. Hmm,tapi rasanya saya berpikir untuk menghapalkannya jika saya punya anak suatu hari nanti, aamiin. Karena rupanya, cara menghafal melalui nyanyi membuat anak-anak dapat menghafal dengan cara yang lebih fun.

Berfoto usai kelas dengan adik-adik di SD Banyuasih
Aha, lalu kami bermain “Pohon Cita-cita”. Neng dan Bu Fadlun mencari tumbuhan di pot di area sekolah dan membawanya masuk ke dalam kelas. Kami meminta anak-anak untuk menuliskan cita-cita mereka di sebuah kertas kecil yang kemudian dilipat-lipat dan disisipkan di batang-batang pohon. Kami mengambil kertas secara acak dan membaca cita-cita apa yang terdapat di kertas tersebut. Anak-anak yang merasa jenis cita-cita itu adalah cita-cita mereka dipersilakan maju dan menjelaskan mengenai cita-cita mereka serta apa yang memotivasi mereka untuk memiliki cita-cita tersebut. Beberapa dari mereka bercita-cita untuk menjadi guru, dosen, polisi, pemain sepak bola dan ustadz seperti Pak Arie.
Tak berapa lama dari sesi berbagi di kelas-kelas SD Banyuasih, kami harus kembali lagi rumah Ust. Ade Suryaman, bebersih atau mendinginkan tubuh sejenak karena suhu di sana panas sekali. Saya dan teman-teman sempat terpikir sungguh untung besar orang yang menjual es batu disini karena es batu jadi sesuatu yang sangat berharga di tengah panasnya desa. Hehehhe.
Sorenya, kami para relawan dipersilakan masuk ke dalam Madrasah Diniyah Awwaliya (MDA) dan Majelis Taklim Daarurroja’. Pak Arie sudah ada di dalam, beliau mengilas balik atau memurojaah kembali hafalan hadits anak-anak muridnya dulu. MasyaAllah, malunya saat itu karena justru saya yang berpendidikan S1 dan telah beragama Islam selama 27 tahun tidak punya banyak hafalan hadits. Justru saya dapat satu tambahan hadits dari adik-adik yang masih terngiang di telinga saya “La taghdob walakal jannah, janganlah marah bagimu surga.”
Besoknya, kami lebih banyak menghabiskan waktu bersama para relawan. Mungkin semacam sesi yang dipersembahkan panitia kepada para relawan untuk sedikit bersantai-santai. Tapi jujur, mata saya tak lepas dari ramainya adik-adik yang berkerumul di pinggir tebing, sebagian dari mereka sedang berenang di bawah, dan saat dihampiri mereka dengan bangganya mempertontonkan aksi mereka melompat dari ujung daratan ke permukaan air.
“Kakak, Kakak, liat aku! Aku bisa begini!” Dan hap! salah satu gadis tomboy yang sedari kemarin saya ajak bicara melopat ke permukaan air, byuurrr!
Lalu menyusul lainnya yang tak kalah unjuk gigi, “Aku bisa lebih tinggi, Kak!”
Sesi seseruan anak-anak melompat ke air yang diabadikan dengan apik oleh Mas Angger (Komunitas Filantropi Pendidikan)
Saya suka. Suka sekali melihat mereka bermain, atau berceloteh macam-macam seakan tau banyak tentang dunia. Berceloteh banyak dengan riangnya atau dengan kepolosan yang masih mereka punya. Suka.
Namun keriangan itu harus berakhir, tatkala panitia memanggil untuk segera kembali ke rumah. Kami harus segera berkemas dan kembali ke Jakarta.
Siang kala itu, kami memasukkan tas-tas kami ke dalam mobil. Bus kami sudah menunggu di tempat pertama kami diturunkan kemarin. Saya melihat lagi gadis tomboy yang banyak saya ajak mengobrol kemarin. Saya berpamitan, dan dia memberikan 3 buah kedondong pada saya. Saya tersenyum simpul.
Hal yang berharga tidak selalu dapat dinilai dengan uang. Ketulusan hati dan upayanya untuk memanjat pohon serta memberikan buah itu menurut saya a very precious thing yang saya dapatkan darinya.
Dan lalu, perjalanan kami mengantarkan kami kembali ke Jakarta. Ke kota yang penuh hiruk pikuk. Ya, kembali ke hiruk pikuk, dimana ketulusan hati adalah sesuatu yang langka untuk ditemukan.
Bukankah menyenangkan melakukan perjalanan sambil berbagi dalam kegiatan sosial?
Ya, saya menjawab tanya pada diri sendiri, yang mengambil kesimpulan dari perjalanan 2 hari 2 malam ke Desa Banyuasih, Pandeglang, Banten.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad).
Beberapa Foto Keseruan Kami saat itu

Ludia dan murid-muridnya

SDN Banyuasih 3

Dateng-dateng langsung diserbu untuk salim, berasa tua :3

Ceritanya berbagi tugas dengan adik-adik, Kakak bagian nempel yah :p

Perjalanan yang sangat menyengat menuju SD Banyuasih 3

Ketika mas Arie memurojaah hafalan hadits adik2
Ruang biru, 1 September 2015
-Baru menyelesaikan penulisannya
"Bukankah hidup pula adalah sebuah perjalanan" :)

0 komentar:
Posting Komentar