Saya dan mimpi-mimpi saya,
Banyak hal yang saya sukai dan saya inginkan dalam hidup ini. Yap, saya punya banyak mimpi dan banyak hal yang disukai. Sebutlah keinginan saya untuk berkeliling dunia. Mendaki semua gunung di Indonesia. Menyelami semua lautan di Indonesa. Keinginan saya untuk ikut berbagai komunitas anak, berbagai komunitas sosial, bahkan PMI, jadi volunteer WWF, mendirikan rumah belajar atau rumah dongeng, lalu belum lagi ingin mencoba caving, memanah, menembak, berkuda, paralayang, dan masih banyak lagi. Ohya, sebenarnya termasuk ingin belajar memasak dan menjahit, membuat kerajinan tangan. Well yeah, saya punya banyaaaakkk mimpi dan keinginan untuk dicapai.
Sejak lulus kuliah dan mulai bekerja, saya merasa bebas. Jujur, memiliki uang sendiri itu seperti memiliki sayap, serasa ingin terbang ke segala arah. Terbang sesuka hati, kemana saja. Saya benar-benar mencicipi hal-hal yang saya inginkan. Saya bergabung ke komunitas sosial, ikut beberapa kegiatan sosial, mencoba mengikuti kegiatan sosial untuk anak, dan mulai membuat perencanaan-perencanaan seru dalam hidup. Melengkapi gear naik gunung, menanjaki beberapa gunung yang selama ini seliweran di telinga saya.
Tapi ketika semangat itu sedang menggebu, ketika semangat itu berhasil tersalurkan, mama menarik surat ijin mendaki saya.
Seperti tamparan keras.
Ibarat kamu sedang terbang dengan gembiranya lalu sebuah rantai menjulur dan menarik.
SLAP! Jatuh. Terjerembab ke bawah. Mengikatmu kembali.
Saya marah dan kecewa.
Saya utarakan semua itu.
Mama menyatakan keberatannya karena berbagai kekhawatirannya tentang pendaki gunung. Lalu kekhawatirannya tentang sisi kewanitaan saya yang kurang terasah jika saya fokus mendaki gunung. Dan mama minta saya fokus untuk menggali hobi yang lebih feminim.
Well, cukup lama saya merenungi hal itu.
Buat saya, ini tetap sebuah hobi, ini masalah eksistensi diri dan kekhasan saya dan jati diri saya. Saya menemukan banyak manfaat ketika mendaki gunung. Sehat, bertemu banyak orang baru, berlatih kesabaran dan kesetikawanan dan lain sebagainya.
Berhari-hari kecewa berat. Berhari-hari diam seribu kata. Sampai pada satu titiknya, alhamdulillah saya berusaha berdamai dengan kekecewaan itu.
Ya, apalah salahnya mempertimbangkan pemikiran mama. Orang yang selama hidupnya bekerja untuk menghidupi saya dan mendidik saya. Yang merelakan 9 bulan masa hidupnya berbagi nutrisi dengan saya. Yang bersedia mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan saya. 26 tahun yang berharga dari diri saya tidak akan seperti sekarang ini jika bukan karena mama. Hal-hal terbaik yang dilakukannhya, bukan pinta saya, beliau memberikannya dengan sukarela. Beliau tidak meminta balasan berupa nyawa. Beliau tidak meminta balasan berupa istana dan perhiasan yang mewah. Yang diharapkannya dan yang dimintanya ini justru demi kebaikan saya. Kebaikan kehidupan saya ke depannya. Karena kekhawatirannya. Lagi-lagi, demi saya.
Ibaratkanlah seberapa girangnya anak kecil berlari dan bermain di bawah rinai hujan. Menyenangkan sekali. Tetapi apa yang dilakukan seorang Ibu? Menyebalkan, menarik tangan anak itu dengan tegas ke dalam rumah. Memakaikan baju hangat padahal dinginnya angin itu sejuk sekali. Lalu dengan panjang dan lebarnya berkata,
“Jangan main hujan, nanti kamu sakit, mama bilang apa. Kamu ga mau dengar. Besok kalau sakit jangan panggil mama.”
Itu menyebalkan bagi anak kecil itu. jujur saja. Tapi bukankah ketika kita telah menginjakkan kaki di usia 20-an, memahami beberapa ilmu kesehatan, ilmu sederhana tentang kesehatan, serta pengalaman yang mumpuni tentang hujan dan akibatnya jika kehujanan, kita akan paham bahwa apa yang dilakukan mama itu benar. Bahwa apa yang dilakukan mama itu adalah karena sayangnya pada sang anak, karena dia tau bahwa bermain hujan seperti itu akan berakibat buruk padanya, bahwa anak itu rentan terhadap penyakit, bahkan bahwa jikapun sang anak masih membandel bermain hujan, dan sakit, sang mama tidak akan meninggalkan anaknya, dia akan menangis sambil lagi-lagi berkata, “mama bilang apa, kamu ga mau dengar sih.”
Ya, mama, dengan kekhawatirannya yang tak pernah berhenti membuncah. dengan sayangnya yang selalu melimpah. Dengan segala waktunya yang selalu, tak pernah berhenti berkata “Jaga anak-anakku Ya Allah.”
Maka saya berdamai dengan semua itu. Dengan segala kekecewaan saya. Dengan sebuah kata ‘kebebasan’ mendaki gunung yang selama ini saya agungkan.
Sebutlah hobi mendaki itu permen. Saya telah meletakkan ‘permen’ kesukaan itu di kotaknya. Di sebuah kotak yang rapih di pojok ruang biru saya. Saya akan membukanya lagi kelak. Ketika saya sudah mendapatkan kembali surat ijin mendaki, entah dari mama atau entah dari suami saya kelak, atau jikapun tidak juga mendapat ijin itu, saya titip harap pada Allah untuk mencicipnya kembali di surga nanti. Tempat segala pinta dan mimpi akan terwujud. Tak ada penghalang, tak ada susah. Semuanya begitu mudah dengan ijin Allah.
Yap, saya rela meletakkan satu permen kesukaan saya itu sejenak. Bersabar dan ikhlas untuk keridhoaan mama, keridhoan Allah. Dunia kan cuma sebentar ya. Kelak, ketika telah kembali pada Sang Khalik, manusia akan saling bertanya dan berkata, “rasanya di dunia hanya sejenak saja.”
Lagipula, masih banyak hobi, mimpi dan hal-hal seru lainnya yang bisa dicicipi. Semacam ada berbagai macam permen dengan aneka rasa dan rupa! :D
(gambar diambil dari http://sunshinecandycarts.ie/)
Sekian cerita saya tentang permen-permen kesukaan saya. Semoga bisa menginspirasi dan bermanfaat buat saya maupun kamu yang sedang membaca ini. Cicipilah permen kesukaanmu, sambil bersyukur ada rasa permen semanis dan seseru itu di dunia ini. Dan kalau ada permen-permen yang tidak boleh kamu cicipi, bersabarlah, titip saja sama Allah, untuk mencicipnya di surga kelak.
Tapiii...persiapkan diri yaa supaya bisa masuk ke surga ;)
Salam hangat selalu,
ruang biru,
dengan kentang yang membiru
12 Oktober 2013.
Fidya


0 komentar:
Posting Komentar