Get me outta here!

Rabu, 21 Oktober 2015

Cincin Kawin Kakakku >> (Tugas cerpen FLP yang baru diselesaikan malam ini)

(gambar diambil dari:http://puntoand.blogspot.co.id/2015/01/cincin-tunangan-pernikahan-dan-kawin-saran.html)


Aku tidak menyangka bahwa semuanya akan menjadi seribet ini.

Pernikahan Kakak ku terancam gagal atau sebut saja tidak akan berjalan seindah harapannya hanya karena aku.

Iya.

Aku. Gadis berusia 24 tahun yang sedang tanggung-tanggungnya dalam hal cinta. Dan itu yang dijadikan sebagai senajata oleh Kakaku untuk menyalahkan aku.

Tuduhan utama yang dia ajukan : Aku akan menghancurkan upacara pernikahannya yang akan dilaksanakan besok pagi.
Alasannya : Aku iri padanya. Aku tidak menyukai pasangannya.
Metode yang dituduhkan : Aku menghilangkan cincin pernikahannya. Cincin pernikahan yang akan dilingkarkan ke jari manis wanita Padang itu esok pagi.

Tapi kukatakan sekali lagi: Aku tidak melakukannya!

Oke, aku melakukannya. Tapi aku tidak sengaja melakukannya.

Garis bawahi hal itu, bahwa AKU TIDAK SENGAJA.

Baik, akan aku ceritakan kronologisnya.

Sudah tiga hari rumah kami ramainya seperti pasar. Saudara-saudara kami dari jauh datang dan menginap di rumah. Tidak salah lagi, karena hari minggu akan dilangsungkan pernikahan Kakakku, Putra Wirada, anak lelaki pertama Papa dan Mama. Dari wanita dan pria lanjut usia sampai cucu cicit, berkumpul semua. Ramai. Hingar Bingar.

Aku tak terlalu suka anak kecil. Mereka berisik. Mereka berceloteh terus menerus,minta diperhatikan terus menerus, dan yang pasti mengeksplorasi semua barang yang ada di rumah. Sepupuku dan cucuku –yap benar aku sudah punya cucu- jumlahnya sampai 12 orang. Dan ada satu sepupuku yang paling kecil. Usianya kisaran 1 tahun. Rewel. Cengeng dan selalu dikucilkan dari geng anak kecil itu karena sifatnya. Namanya Clarissa.

Sabtu pagi. Papa dengan wibawa penuh memberikan mandat tugas khusus untukku. Anak yang KATANYA paling dipercayainnya untuk menjaga si kecil Clarissa. Menurutku, sebenarnya aku hanya menjadi tumbal. Hah.

“Kamu jaga Clarissa. Dia berisik sekali pagi ini. Dia habis berantem sama Max, Hedi dan Gun. Papa pusing sekali dengar dia menangis.” Kata Papa pagi-pagi menyeruak masuk ke kamarku. Padahal aku bahkan belum sepenuhnya terduduk bangun.

Aku mengucek mata, “Apa Pa?”

“Kamu, jaga, Clarissa.”

“Ha?” Aku setengah sadar.

Dan serta merta Papa menghibahkan badan mungil Clarissa di atas badanku. Clarissa dengan rambut kriting coklatnya. Menangis meraung-raung. Dan menggeliat seperti cacing di atas badanku.

Aku tersentak, gagap, “Tapi Pa!”

“Haiz, Papa mau keluar dulu. Kamu jaga Clarissa. Orang tuanya lagi sibuk.”

Pintu berdebam. Papa menutup pintu kamarku yang masih gelap. Lampu belum kunyalakan dan jendela bahkan belum kubuka.

“Huaaaaaa....!!! Aaaamamamma, Hahkabanatata...”

Mataku mengernyit, ngomong apa pula si Clarissa.

Hhhhh

“Iya Clarissa.. Max memang nakal...nanti kita pukul dia biar ga gangguin kamu lagi ya” bujuk ku berusaha membuatnya terdiam.

Hasilnya ? Nihil.

Oke, back to the topic. Dimana letak kasus utamanya?

Clarissa tidak berhenti menangis. Dan aku sudah nyaris kelelahan membujuknya. Kali ini sepertinya dia sudah sepenuhnya sakit hati pada saudara-saudara sepupunya. Aku menggendongnya keliling rumah. Bernyanyi-nyanyi, mendongeng ala kadarnya sampai-sampai ikutan berantem sama Max, Hedi dan Gun. Luar biasa. Sementara orang lain sibuk mempersiapkan acara esok hari. Aku malah dapat mandat super: menjaga Clarissa.

Siang tiba, aku membuka kamar Kak Putra. Menggendong Clarissa sambil berkata-kata ngalor-ngidul.

“Liat liat, itu ada cicak di jendela! Waaaawww cicaknya pakai kacamata hitaaaammm” aku berbohong.

Clarissa yang sepertinya sudah tau aku berbohong tak bergeming.

Disaat aku hampir menyerah, mendadak, tangis Clarissa mereda.

Aku terkesiap. Bersyukur seperti ingin langsung sujud syukur.
Apa gerangan yang membuat anak kecil ini berhenti menangis?
Matanya tertuju pada boneka kecil di meja kerja Kak Putra. Boneka beruang kecil berwarna pink yang menggendong kantong berwarna merah tua.

“Boeaaa aiyaaaaaa”
Translate: Boneka Clarissa

Rupanya anak ini teringat pada boneka beruangnya yang ada di rumah. Itu yang membuatnya mendadak diam dan tenang.

Aku celingak-celinguk.

“Tapi Clarissa, itu boneka Kak Putra. Pemberian dari calonnya. Nanti dia marah.”

“Boeaaa aiyaaaaaa!!!!!!!!!!!” dan dia mulai menangis.

Kupingku mendadak panas. Aaaarrrrggghhh.

Celingak-celinguk.

“Tapi bentar aja ya Ica...” aku memelas. Yang aku tau dia tak akan mengerti arti sebentar. Tanganku terjulur. Mengambil boneka beruang itu. Memberikannya pada Clarissa. Dan dia pun tenang.

*****

Sabtu sore,

Clarissa sudah tertidur tenang di pangkuan Ibunya. Memeluk boneka beruang itu. Dan aku? Sibuk mencicipi kue di dapur. Bayangkan betapa beratnya perjuanganku hari ini.
Saat aku kembali ke ruang tengah. Kudapati mereka sudah tidak ada.

“Clarissa sakit panas.”

“Kayanya gara-gara nangis seharian.”

“Mereka pulang dulu, mungkin besok mereka cuma datang pas resepsi aja.”

“Atau pas acara di rumah.”

“Semoga Clarissa ga apa-apa ya. Panas banget tadi badannya.”

Satu persatu keluarga susul-susulan memberi suara. Aku jadi teringat pada ekspresi tenangnya saat memeluk boneka beruang pink punya Kak Putra. Fiuh. Bersyukur aku minjemin boneka itu. Senggaknya dia berhenti menangis.

**** 

“BONEKA BERUANG DI KAMAR GUE MANA???” suara Kak Putra membahana.

Aku tersedak. Padahal baru saja menyuap ayam opor ke dalam mulut.

Aku tak sanggup menatap Kak Putra yang berjalan penuh emosi ke ruang tengah tempat kami semua berkumpul malam ini. Mukanya merah padam. Yang lain sahut menyahut. Berkata tak tahu, boneka yang mana, pemberian siapa, seberapa pentingnya, dll, hingga sampai pada kalimat Kak Putra,

“Putra taro cincin kawin buat mahar besok di dalam boneka beruang itu!”

CETAAAAAAARRRRRRR

Aku shock.

Mati aku.

Mati aku.

Mati aku.

Yang lain mulai panik. Bertanya benarkah, bertanya kenapa bisa meletakkan benda sepenting itu di dalam kantong boneka, bertanya dimana terakhir ditaruh, hingga sampai pada sebuah pernyataan bahwa Boneka beruang itu terbawa oleh Clarissa ke rumahnya di Tanggerang. 2 jam dari sini. Dan Aku, AKULAH YANG MEMBERIKAN BONEKA ITU PADA CLARISSA.

Kak Putra menghampiri aku yang masih membeku di atas sofa. Dengan tangan yang juga kaku di depan mulut, memegang sendok berisi suapan nasi.

Bola mataku berputar, berusaha menghindari tatapan tajam Kak Putra.

“Kenapa-elo-kasih-boneka-itu-ke-Clarissa?” tanyanya tajam.

“Ke-ke-Clarissa nangis. Ga berhenti. Dia mau boneka itu.”

“Tapi di boneka itu ada cincin kawin gueeee!!! Mahar buat nikah gue besoookkkk!!!!”

Oke, Kak Putra mulai tidak bisa mengusai emosinya.

Dan benar saja. Dia mengibas piring yang kupegang. Praaangg!! Jatuh ke lantai.

“Lo kalo ga suka sama pernikahan gue besok jangan kaya gini caranya!!! Lo kalo ga suka sama Imel jangan kaya gini!!! Nikahan gue tuh besok!! Lo sengaja kali ya ngilangin mahar gue!!!”

Kalap. Dia jelas sudah kalap.

Sebilah pisau kalah tajam dari kata-katanya barusan.

Itu JLEB BANGET.

Bahkan tanpa sadar, Aku menitikkan air mata.

***** 

Malam minggu itu pun menjadi malam yang panjang.

Aku, ditemani sepupuku melaju dengan mobil Avanza merah menuju Tanggerang. Ya, kami menyusul ke rumah Clarissa. Handphonne kedua orang tuanya tidak aktif. Jadi kami harus langsung kesana.
Sesampainya di rumah Clarissa, tetangganya memberi keterangan,

“Mereka ke rumah sakit. Clarissa panasnya tinggi sekali, jadi tadi mereka langsung membawanya ke rumah sakit.”

“Rumah sakit mana?” tanyaku.

“Aduh, lupa kami tanyakan.” Jawab tetangga.

Dan memang benar-benar tewas. Habis lah sudah.

Lama waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 3 subuh. Aku dan sepupuku masih berkeliling Tanggerang mencari rumah sakit yang kira-kira mereka datangi.

Hahhhhh...

Rasanya nyaris ga bernyawa.

Besok pagi jam 8 Kak Putra akan mengikrarkan akad nikahnya. Tapi maharnya bahkan tidak ada. Maharnya, terbawa entah kemana. Dan siapa yang menyebabkan hal itu terjadi?

Aku.

Sepupuku pun mulai kelelahan. Dia menepikan mobilnya di depan rumah Clarissa yang kosong.

Muka kami sama-sama pucat.

Dan tidak ada sepatahkatapun yang bisa terucap.

Diam saja.

Entah seperti apa besok pagi.

Masa iya maharnya: Seperangkat alat shalat, titik.
Padahal cincin emas 30 mayam itu seharusnya masuk dalam penyebutan mahar.

“Din.” Sepupuku mengucap lirih.

Aku menunduk, “Gue tau gue bego...” suaraku lemah, “Gue ga pernah punya hubungan baik ama Kak Putra..bahkan di hari pernikahannya gue bikin masalah..”

Aku nyaris menangis lagi.

“Din, lo bakal cekek gue kayanya.” Sepupuku mengucap lirih lagi.

Aku menoleh pelan.

Sepupuku, Lyn, menyengir kaku, memegang sebuah boneka kecil berwarna pink yang memeluk kantong berwarna merah.

Baiklah, sebut saja nafasku berhenti saat itu.

“Gue lupa banget,,Tadi waktu Clarissa sakit, gue yang anter mereka ke tanggerang.. Dan, boneka nya ketinggalan di samping jok mobil gue...”

“Gue sebenernya sadar sih ada boneka di samping jok mobil gue...tapi gue ga ngeh ini boneka yang dimaksud...”

“Waktu hopeless tadi gue pegang-pegang aja boneka ini...dan taunya...” Lyn nyengir lebih miris, mengeluarkan sebentuk cicin emas dari kantong merah boneka itu, “Ternyata di dalamnya ada cicin kawin Kak Putra...”

“Serius Din..maafin gue...”

Sebelum dia menyelesaikan ucapannya aku sudah menangis sejadi-jadinya. Aku tidak pernah merasakan rasa syukur yang teramat sangat, jengkel, marah di waktu yang bersama seperti subuh itu.

***** 

“Saya terima nikahnya, Melati Gyra binti Suherman Ricardo, dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan cincin emas 30 mayam, dibayar tunai.”

“Sah!”

“Alhamdulillah”

Tahukah kamu, banyak sekali orang yang memberi petuah bahwa detik-detik menuju pernikahan, pasti adaaaaaa aja ujian bagi calon pengantin. Mungkin itu juga yang terjadi pada Kakakku. Ujiannya itu ya cincin kawinnya pake hilang, bahkan 5 jam sebelum pernikahan. Tapi yang menyedihkan sebenarnya, kenapa harus gue yang jadi bahan ujian buat Kakak gue.

Fiuh.

Dan, oya, jangan bawa-bawa boneka beruang lagi dekat aku. Aku pikir aku trauma. Haha.

TAMAT.

0 komentar:

Posting Komentar